haluannews.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika yang cukup tajam pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami tekanan dan ditutup melemah pada akhir sesi pertama. Berdasarkan data perdagangan, indeks mengalami penurunan sebesar 12,86 poin atau setara dengan 0,21 persen, sehingga menyentuh level 6.135.

Related Post
Pergerakan pasar sejak pagi hari sebenarnya sudah menunjukkan sinyal negatif. IHSG dibuka pada posisi 6.118,81, sebuah angka yang lebih rendah dibandingkan penutupan pada hari perdagangan sebelumnya. Tekanan jual dari para pelaku pasar langsung menghantam indeks sejak bel pembukaan berbunyi. Bahkan, volatilitas sempat mencapai titik ekstrem ketika indeks merosot tajam hingga menyentuh level terendahnya di angka 6.013,08 pada pukul 09.30 WIB.

Meski sempat terpuruk, pasar tidak lantas menyerah. Memasuki tengah hari, terlihat adanya upaya pemulihan dari para investor. IHSG mulai merangkak naik secara perlahan dan sempat bergerak stabil di rentang 6.040 hingga 6.100 pada pukul 10.00 WIB. Momentum penguatan sempat memuncak menjelang pukul 11.00 WIB, di mana indeks berhasil menembus level tertinggi harian di angka 6.150,55. Namun, euforia penguatan tersebut tidak bertahan lama. Aksi ambil untung atau profit taking oleh para investor kembali menekan indeks, sehingga IHSG kembali terkoreksi ke level 6.135 dan tetap berada di zona merah.
Tingginya volatilitas ini tercermin dari rentang pergerakan harian yang cukup lebar, yakni sekitar 137 poin dari titik terendah ke titik tertinggi. Volume transaksi yang tercatat mencapai 231 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp7,34 triliun. Secara keseluruhan, dominasi saham yang melemah terlihat cukup signifikan, di mana terdapat 451 saham yang mengalami penurunan, sementara hanya 250 saham yang mampu mencatatkan penguatan.
Kondisi pasar yang fluktuatif ini tidak lepas dari implementasi kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI). Mulai Senin, 28 September 2026, BEI resmi memberlakukan kebijakan penurunan harga minimum saham dari Rp50 menjadi hanya Rp1 per lembar pada pasar reguler dan pasar tunai. Kebijakan ini juga dibarengi dengan penyesuaian batas auto rejection. Untuk saham dengan rentang harga Rp1 hingga Rp10, batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Bawah (ARB) ditetapkan sebesar Rp1. Sementara itu, aturan ARB asimetris sebesar 15% masih tetap berlaku bagi saham dengan harga di atas Rp10 hingga akhir tahun 2026.
Pihak BEI menjelaskan bahwa langkah revolusioner ini diambil untuk memperluas cakupan perdagangan, meningkatkan kualitas penemuan harga (price discovery), serta memacu likuiditas pasar. Dengan harga yang lebih fleksibel, investor diharapkan memiliki ruang gerak yang lebih luas dalam mengelola portofolio mereka.
Namun, di sisi lain, sentimen eksternal global tetap menjadi bayang-bayang yang menakutkan bagi pasar domestik. Kebijakan moneter global yang cenderung ketat, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat, lonjakan harga energi, hingga tingginya suku bunga global masih menjadi faktor risiko utama. Hal ini turut memicu volatilitas di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, yang diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal pekan ini.








Tinggalkan komentar