Haluannews Ekonomi – Pasar modal Tanah Air pada Senin (2/2/2026) menyajikan pemandangan paradoks yang menarik perhatian para pelaku pasar. Di tengah tekanan jual masif yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk parah, investor asing justru terpantau kembali mengalirkan dananya ke bursa domestik, mencatatkan pembelian bersih (net buy) yang signifikan.

Related Post
Data perdagangan sesi pertama menunjukkan bahwa investor asing melakukan net buy sebesar Rp 577,4 miliar. Total nilai transaksi beli oleh asing mencapai Rp 5,7 triliun, sementara penjualan tercatat Rp 5,1 triliun. Sektor pertambangan dan energi tampak menjadi magnet utama bagi investor asing dalam akumulasi beli ini. Beberapa nama besar yang menjadi incaran antara lain Archi Indonesia (ARCI), Darma Henwa (DEWA), Merdeka Gold Resources (EMAS), dan Antam (ANTM).

Secara spesifik, Bank Central Asia (BBCA) memimpin daftar saham dengan net buy asing terbesar, mencapai Rp 201,7 miliar. Disusul oleh XL Axiata (EXCL) dengan Rp 102,4 miliar. Sementara itu, ARCI membukukan net buy Rp 71,5 miliar, EMAS Rp 55,2 miliar, DEWA Rp 54,6 miliar, dan ANTM Rp 36,5 miliar.
Namun, di sisi lain, kinerja IHSG justru berbanding terbalik. Indeks acuan tersebut terparkir di level 7.887,16 pada penutupan sesi pertama, anjlok 5,31% atau kehilangan 442,45 poin. Koreksi masif ini menyeret mayoritas saham ke zona merah, dengan 750 saham turun, 140 stagnan, dan hanya 68 saham yang berhasil menguat. Nilai transaksi mencapai Rp 18,9 triliun, melibatkan 33,66 miliar saham dalam 2,04 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun ikut merosot menjadi Rp 14.177 triliun.
Mengutip Refinitiv, seluruh sektor mengalami pelemahan, dengan sektor bahan baku mencatat koreksi terdalam, diikuti oleh konsumer non-primer, properti, dan energi. Saham-saham konglomerat, terutama emiten-emiten milik Prajogo Pangestu, menjadi penekan utama IHSG. Barito Pacific (BRPT), Barito Renewables Energy (BREN), dan Chandra Asri Pacific (TPIA) secara kolektif menyumbang -45,48 indeks poin. Beban terbesar IHSG pada sesi ini berasal dari Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dengan bobot -52,76 indeks poin, diikuti Amman Mineral International (AMMN) sebesar -30,78 indeks poin. Beberapa saham Grup Bakrie seperti Bumi Resources (BUMI), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Darma Henwa (DEWA) bahkan menyentuh batas auto reject bawah (ARB), dengan BRMS membebani IHSG sebesar -19,34 indeks poin.
Kondisi pasar yang volatil ini terjadi menjelang pertemuan krusial antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin sore (2/2/2026). Pertemuan ini diharapkan dapat memulihkan kredibilitas pasar saham Indonesia yang belakangan diterpa sentimen negatif.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa krisis kepercayaan di BEI harus dipandang sebagai momentum untuk reformasi pasar modal secara menyeluruh. "Ini bukan sekadar persoalan satu atau dua saham, dan bukan semata urusan bursa atau indeks global, melainkan menyangkut kepercayaan terhadap sistem pasar modal nasional dan kredibilitas negara," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (2/2/2026). Pandu menambahkan, agenda reformasi ini esensial agar pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam, lebih likuid, dan lebih kredibel.
Senada, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperingatkan bahwa pergerakan IHSG masih rawan koreksi. "Secara teknikal, kami memperkirakan kecenderungan worst case skenario ke bawah 7.000 untuk pergerakan IHSG," ungkapnya kepada Haluannews.id.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa ancaman penurunan peringkat (downgrade) ke frontier market oleh MSCI, serta underweight oleh Goldman Sachs, masih menjadi beban berat. "Memang ancaman downgrade ke frontier market oleh MSCI, serta underweight oleh Goldman Sachs masih membebani. Apakah potensi ke 7.000-an, untuk saat ini sangat berpotensi," tutupnya. Peningkatan free float saham hingga 15% diketahui menjadi salah satu respons otoritas untuk memenuhi permintaan MSCI, namun implementasinya dinilai sulit tercapai dalam waktu dekat.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar