Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan ditutup melemah pada perdagangan Kamis (22/1/2026), mengakhiri sesi di zona merah setelah sempat bergairah di awal sesi. IHSG terkoreksi 0,2% atau 18,15 poin, parkir di level 8.992,18.

Related Post
Aktivitas perdagangan hari ini cukup ramai dengan 360 saham mencatatkan kenaikan, namun 353 saham lainnya justru mengalami penurunan, dan 245 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 37,94 triliun, melibatkan 68,58 miliar saham yang berpindah tangan dalam 3,99 juta transaksi.

Tekanan jual masif menghantam sejumlah saham, terutama dari sektor energi dan sumber daya. Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi yang paling terpukul dengan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp 1,01 triliun, mengakibatkan harga sahamnya anjlok 9,8% ke level 348. Menurut data Refinitiv, BUMI menjadi pemberat utama indeks dengan kontribusi negatif sebesar 9,86 poin.
Selain BUMI, saham emiten milik Prajogo Pangestu, Petrosea (PTRO), juga mengalami nasib serupa. PTRO merosot 12,9% ke level 10.775 dengan net sell Rp 242,6 miliar, membebani IHSG sebesar 9,96 poin. Saham emiten Bakrie lainnya, Darma Henwa (DEWA), juga tak luput dari tekanan jual dengan net sell Rp 266,1 miliar dan penurunan harga 9,5% ke level 665, menyeret IHSG turun 4,4 poin.
Investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp 854 miliar pada sesi pertama perdagangan. Saham Bank Central Asia (BBCA) menjadi target utama dengan net foreign sell terbesar, mencapai Rp 613,7 miliar, diikuti oleh Bank Mandiri (BMRI) sebesar Rp 170,6 miliar dan Petrosea (PTRO) sebesar Rp 161,7 miliar.
Di tengah koreksi IHSG, kabar baik datang dari nilai tukar rupiah yang berhasil menguat terhadap dolar AS. Rupiah ditutup di level Rp16.880/US$, menguat 0,30% dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan ini merupakan kelanjutan dari tren positif yang dimulai sejak pembukaan perdagangan.
Sentimen positif terhadap rupiah didorong oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Kebijakan ini dinilai menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah dan menopang stabilitas nilai tukar. Selain itu, meredanya tensi geopolitik global setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump juga memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar