IHSG Terjun Bebas Menguji Nyali Investor

IHSG Terjun Bebas Menguji Nyali Investor

haluannews.id – Pasar modal Indonesia kembali diguncang badai koreksi tajam pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan yang cukup signifikan, merosot ke level 5.217,14. Penurunan ini setara dengan kehilangan 111,22 poin atau sekitar 2,09% dari posisi sebelumnya, yang memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data transaksi, volume perdagangan tercatat mencapai 8,75 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp408,56 miliar. Pelemahan indeks ini tidak terjadi tanpa alasan. Mengacu pada data Refinitiv, sektor material dasar menjadi motor utama penyebab anjloknya IHSG dengan penurunan sebesar 1,5%. Tak kalah parah, sektor teknologi juga ikut tertekan dengan merosot 1,1%, disusul oleh sektor keuangan yang terkoreksi 0,8%.

IHSG Terjun Bebas Menguji Nyali Investor
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Beberapa saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang menjadi pemberat indeks antara lain adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA), serta PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA). Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang mencoba memberikan perlawanan atau menjadi pengungkit indeks, seperti PT Metro Healthcare Indonesia Tbk. (CARE), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan PT Golden Flower Tbk. (POLU).

Sentimen negatif ini juga dibayangi oleh isu global dan domestik yang sedang memanas. Dari sisi domestik, investor tengah menanti langkah Bank Indonesia (BI) terkait kebijakan suku bunga acuan serta kebijakan baru untuk memacu penyaluran kredit perbankan. Selain itu, perhatian tertuju pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna, terutama mengenai respons pemerintah terhadap ancaman penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

MSCI saat ini tengah mengkaji kemungkinan mengubah status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Menanggapi hal ini, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu merasa gentar. Ia menilai pernyataan MSCI tersebut sebagai upaya untuk menakut-nakuti pelaku pasar di tanah air. "Kita masih banyak gangguan, masih banyak kita terus dihadang. Ada macam-macam, ada MSCI, dia mau takut-takutin kita," tegas Prabowo dalam keterangannya.

Proses konsultasi terkait perubahan klasifikasi ini diperkirakan akan berlangsung hingga April 2027, dengan keputusan final yang dijadwalkan keluar paling lambat pada 30 Juni 2027. Di tengah ketidakpastian ini, pelaku pasar juga terus memantau upaya reformasi pasar modal yang dilakukan otoritas Indonesia, khususnya terkait transparansi kepemilikan saham dan penegakan aturan perdagangan guna memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.

Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga turut memperkeruh suasana, mulai dari lonjakan inflasi di Inggris hingga kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Prancis yang membuat aliran modal global menjadi lebih berhati-hati. Melansir laporan dari haluannews.id, kondisi ini menuntut investor untuk lebih jeli dalam membaca arah pergerakan pasar ke depan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar