haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG kembali menutup perdagangan Rabu dengan rapor merah setelah sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Meskipun berhasil bangkit dari titik terendah hariannya, indeks acuan ini gagal mempertahankan level psikologis 6.100, mencerminkan kehati-hatian investor di tengah berbagai sentimen global dan domestik yang memanas.

Related Post
Pada penutupan sesi, IHSG terkoreksi 39,20 poin atau setara 0,64 persen, mendarat di posisi 6.091,39. Pergerakan indeks hari itu cukup dinamis, sempat menyentuh level tertinggi 6.174,41 di awal perdagangan, sebelum anjlok ke 6.029,32 dan kemudian berupaya memangkas pelemahan. Aktivitas jual beli saham mencatat nilai transaksi fantastis mencapai Rp22,86 triliun, melibatkan 38,53 miliar saham dalam 1,95 juta kali transaksi. Namun, dominasi saham yang melemah sangat terasa, dengan 494 saham terpuruk, berbanding 186 saham yang menguat, dan 285 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.675 triliun.

Koreksi pasar ini merata di seluruh sektor. Sektor properti menjadi yang paling terpukul, anjlok hingga 4,54 persen. Disusul oleh sektor utilitas yang merosot 4,21 persen, konsumer non-primer turun 1,50 persen, industri melemah 1,44 persen, dan energi terkoreksi 1,32 persen. Beberapa saham dengan kapitalisasi besar turut menjadi beban utama yang menyeret IHSG. PT Maha Properti Indonesia Tbk MPRO menyumbang pelemahan terbesar 6,68 poin, diikuti PT Barito Renewables Energy Tbk BREN dengan 6,12 poin, PT Mora Telematika Indonesia Tbk MORA 5,19 poin, dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk VKTR 3,82 poin.
Meski demikian, tekanan jual berhasil sedikit diredam oleh penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar lainnya. PT Telkom Indonesia Persero Tbk TLKM menjadi penopang utama dengan kontribusi positif 3,13 poin. Diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk BBCA yang menyumbang 2,49 poin, PT Barito Pacific Tbk BRPT 1,64 poin, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk TPIA 1,42 poin.
Elandry Pratama, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, menjelaskan kepada haluannews.id bahwa penurunan IHSG merupakan kombinasi dari sentimen eksternal dan domestik. "Dari luar, sentimen pasar masih diselimuti kehati-hatian menjelang beberapa agenda global penting, yang memicu berkurangnya minat terhadap aset berisiko. Dari dalam negeri, pasar juga sedang mencerna rilis kinerja Semester I-2026 yang hasilnya bervariasi, sehingga mendorong aksi ambil untung pada saham-saham yang sebelumnya sudah menguat," ungkap Elandry. Ia menambahkan bahwa tekanan jual masih lebih dominan, namun selama tidak ada sentimen negatif baru yang muncul, pelemahan ini masih dianggap sebagai fase konsolidasi yang wajar, bukan perubahan fundamental pasar. Elandry memproyeksikan level support IHSG jangka pendek berada di kisaran 6.050-6.080, dengan potensi menguji 6.000 jika ditembus. Sementara itu, resistance berada di 6.150-6.200, dengan peluang rebound yang lebih besar jika diikuti masuknya dana asing.
Senada, Herditya Wicaksana, Head of Research Retail MNC Sekuritas, menyoroti aksi jual investor asing di pasar reguler yang mencapai sekitar Rp4,36 triliun dalam sepekan terakhir sebagai faktor penekan. Investor juga masih menantikan hasil rapat FOMC The Fed, mencermati kenaikan harga minyak mentah yang mendekati US$80 per barel, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh level Rp18.000-an per dolar AS. Meskipun volatilitas jangka pendek diprediksi tetap tinggi, Herditya mempertahankan proyeksi dasar IHSG di level 7.000, dengan skenario terburuk di 6.100. Ini menunjukkan bahwa ruang pemulihan pasar masih terbuka lebar jika sentimen global mulai mereda.










Tinggalkan komentar