Haluannews Ekonomi – Jakarta, Pasar modal Indonesia menghadapi tekanan jual masif pada penutupan pekan ini, Jumat (24/4/2026), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi mendalam lebih dari 2%. Per pukul 10.58 WIB, indeks kebanggaan bursa Tanah Air ini terperosok 187 poin atau setara 2,54%, kembali bertengger di level 7.191,44. Penurunan ini mengindikasikan sentimen negatif yang kuat di kalangan investor, menyeret IHSG kembali ke kisaran level 7.100-an.

Related Post
Volume transaksi pagi ini tercatat mencapai Rp 11,19 triliun, melibatkan perputaran 24,90 miliar saham dalam 1,45 juta kali transaksi. Tekanan jual yang dominan terlihat dari perbandingan saham yang bergerak: hanya 79 saham yang menguat, sementara mayoritas, yakni 637 saham, tergelincir ke zona merah, dan 98 saham lainnya stagnan. Imbasnya, kapitalisasi pasar bursa turut menyusut signifikan menjadi Rp 12.880 triliun.

Hampir seluruh sektor perdagangan terpantau melemah, dengan sektor infrastruktur, konsumer, properti, dan energi mencatatkan koreksi paling tajam. Emiten-emiten berkapitalisasi besar atau blue chip yang biasanya menjadi penopang, justru kompak menjadi pemberat kinerja IHSG hari ini. Beberapa di antaranya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Pelemahan pasar di penghujung pekan ini tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang memanas tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah global dan penguatan indeks dolar AS, yang secara simultan memberikan tekanan berat bagi pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah.
Harga minyak Brent, patokan global, kembali melesat lebih dari 3%, ditutup di level US$ 105,07 per barel, mencapai titik tertinggi sejak 7 April 2026. Sementara itu, indeks dolar AS melonjak ke level 98,77, tertinggi sejak 9 April 2026. Kenaikan harga komoditas energi ini berpotensi memicu inflasi dan menekan margin perusahaan, sementara penguatan dolar AS kerap memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang.
Di tengah gejolak global, pasar saham Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan yang beragam, mencerminkan kehati-hatian investor. Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Lebanon telah diperpanjang selama tiga minggu, ketidakpastian geopolitik masih menjadi bayang-bayang. Presiden Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sementara ini setelah pertemuan di Gedung Putih dengan pejabat tinggi AS. Perpanjangan ini diharapkan memberi ruang lebih untuk upaya diplomatik, di mana Washington juga berjanji membantu Lebanon memperkuat pertahanannya dari Hizbullah. Harga minyak berjangka AS juga naik sekitar 1,23% menjadi sekitar $97,03 per barel.
Di Jepang, Indeks Nikkei 225 menguat tipis 0,71% dan Topix naik 0,30%. Penguatan ini terjadi setelah inflasi inti Jepang meningkat untuk pertama kalinya dalam lima bulan, mencapai 1,8% pada Maret, sejalan dengan ekspektasi ekonom dan lebih tinggi dari 1,6% pada Februari. Namun, kekhawatiran akan dampak perang Iran terhadap harga energi tetap membayangi.
Kontras dengan Jepang, pasar Korea Selatan mengalami koreksi. Indeks Kospi turun 0,23%, sementara indeks Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil cenderung datar. Di Hong Kong, kontrak berjangka indeks Hang Seng berada di 25.802, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 25.915,2. Pasar Australia juga terpantau melemah, dengan S&P/ASX 200 terkoreksi 0,29%.
Situasi serupa juga terjadi di bursa Amerika Serikat pada perdagangan Kamis malam waktu setempat. Saham-saham di Wall Street mengalami penurunan signifikan, terutama dipimpin oleh sektor perangkat lunak dan didorong oleh kenaikan harga minyak, seiring dengan ketidakpastian investor mengenai arah konflik di Iran.
Indeks S&P 500 ditutup melemah 0,41% di level 7.108,40, meskipun sempat mencetak rekor tertinggi intraday baru. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi juga terkoreksi 0,89% menjadi 24.438,50, setelah sebelumnya mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada sesi tersebut. Sementara itu, Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 179,71 poin atau 0,36%, berakhir di level 49.310,32.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar