IHSG Terbang Tinggi! Saham CDIA Jadi Buruan Investor

IHSG Terbang Tinggi! Saham CDIA Jadi Buruan Investor

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan sebesar 0,27% atau 21,59 poin, menutup perdagangan di level 8.139,89 pada hari Senin (6/10/2025). Aktivitas perdagangan terpantau ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp 28,21 triliun, melibatkan 46,15 miliar saham dalam 2,94 juta transaksi.

COLLABMEDIANET

Dominasi penguatan terlihat pada sektor utilitas dan properti, sementara sektor finansial dan konsumer non primer mengalami koreksi. Saham-saham emiten konglomerasi menjadi motor penggerak utama IHSG, berbanding terbalik dengan emiten berkapitalisasi pasar besar yang justru menekan kinerja indeks.

IHSG Terbang Tinggi! Saham CDIA Jadi Buruan Investor
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Saham-saham yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu mencuri perhatian dengan kenaikan signifikan. Barito Renewables Energy (BREN) memimpin penguatan dengan lonjakan 4,45% ke Rp 9.975 per saham, memberikan kontribusi 16,18 indeks poin. Barito Pacific (BRPT) juga tak kalah menarik dengan kenaikan 3,90% ke Rp 4.000 per saham, menyumbang 9,35 indeks poin.

Namun, sorotan utama tertuju pada saham Chandra Daya Investasi (CDIA) yang menjadi incaran investor. CDIA mencatatkan nilai transaksi reguler tertinggi, mencapai Rp 2,31 triliun. Harga saham CDIA melesat 15,61% ke Rp 2.000 per saham, berkontribusi 8,24 indeks poin terhadap penguatan IHSG.

Multipolar Technology (MLPT) juga mencuri perhatian dengan menyentuh batas auto rejection atas (ARA), naik 10% ke Rp 197.225 per saham di papan pemantauan khusus, menyumbang 7,92 indeks poin. Selain itu, emiten konglomerasi lain seperti CUAN, TPIA, BRMS, dan PANI turut memberikan andil positif bagi IHSG.

Di sisi lain, saham-saham seperti TLKM, DCII, BYAN, BBRI, dan BMRI menjadi pemberat utama kinerja IHSG pada hari ini.

Menjelang pekan kedua Oktober, pelaku pasar akan dihadapkan pada sejumlah agenda penting, baik dari dalam maupun luar negeri. Rilis data ekonomi dari Bank Indonesia (BI), risalah rapat The Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan penutupan pemerintahan Amerika Serikat akan menjadi faktor penentu arah pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah.

Kondisi penutupan pemerintahan AS yang masih berlangsung tanpa kejelasan waktu juga akan terus menjadi perhatian pasar.

Sementara itu, di Amerika Serikat, indeks utama Wall Street ditutup lebih tinggi pada akhir pekan lalu. S&P 500 naik tipis 0,01%, Nasdaq Composite turun 0,28%, Dow Jones Industrial Average naik 0,51%, dan Russell 2000 naik 0,72%.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar