haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat 31 Juli 2026 dengan performa gemilang, melaju perkasa ditopang oleh lonjakan harga saham sektor komoditas dan properti. Fenomena menarik ini terjadi meskipun investor asing terpantau masih gencar melepas kepemilikan saham mereka di seluruh pasar pada sesi pertama.

Related Post
Berdasarkan data terkini dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berhasil melonjak 0,80% dan menutup hari di level 6.236,13. Sepanjang sesi perdagangan, indeks kebanggaan Tanah Air ini bergerak dalam rentang 6.201,89 hingga mencapai puncak harian di 6.236,61. Total nilai transaksi yang tercatat menembus angka fantastis Rp17,85 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 30,93 miliar saham yang berpindah tangan melalui 1,926 juta kali transaksi. Mayoritas saham menunjukkan performa positif, di mana 455 saham menguat, 205 saham melemah, dan 303 saham lainnya bergerak stagnan. Adapun kapitalisasi pasar BEI kini berada di kisaran Rp10.923 triliun.

Paradoks pasar terlihat jelas dari aktivitas investor mancanegara. Data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa investor asing masih membukukan penjualan bersih (net foreign sell) sebesar Rp70,18 miliar di seluruh pasar pada sesi pertama. Meskipun demikian, total pembelian asing mencapai Rp1,82 triliun, sementara penjualan mereka sedikit lebih tinggi di angka Rp1,89 triliun.
Beberapa saham blue chip menjadi sasaran utama penjualan investor asing, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai Rp113,56 miliar, diikuti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp55,71 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp44,92 miliar, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp29,43 miliar, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp19,06 miliar.
Di sisi lain, saham-saham tertentu justru menjadi incaran utama pembelian asing. PT Timah Tbk (TINS) memimpin daftar dengan pembelian senilai Rp109,82 miliar, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp82,79 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp45,35 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp43,60 miliar, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp30,53 miliar.
Secara sektoral, nyaris seluruh sektor industri berhasil menutup hari di area positif. Sektor kesehatan menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan impresif 2,85%, diikuti oleh sektor bahan baku yang menguat 2,37%, properti 2,26%, konsumer non-primer 1,57%, serta teknologi 0,74%. Hanya sektor keuangan yang harus rela mengakhiri hari di zona merah, dengan penurunan tipis 0,12%.
Kontributor utama penguatan IHSG datang dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang menyumbang 5,72 poin. Kemudian disusul oleh PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan 4,38 poin, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) 3,61 poin, PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) 3,57 poin, PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) 3,16 poin, dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) 3,15 poin.
Namun, beberapa saham raksasa justru menjadi beban utama yang menahan laju indeks. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi pemberat terbesar dengan pengurangan 12,48 poin, diikuti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar 4,18 poin, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) 1,01 poin, PT United Tractors Tbk (UNTR) 1,01 poin, dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 0,92 poin.
Secara teknikal, IHSG berhasil mengunci posisi di dekat puncak hariannya, sekaligus menjaga posisinya kokoh di atas garis rata-rata bergerak tertimbang (WMA) 20 hari yang berada di kisaran 6.170. Selama IHSG mampu mempertahankan posisinya di atas area krusial ini, prospek untuk melanjutkan tren kenaikan menuju kisaran 6.260-6.320 tampak sangat menjanjikan.










Tinggalkan komentar