haluannews.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan kekuatannya. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG pada perdagangan Kamis 11 Juni 2026 pagi melesat tajam melanjutkan tren positif yang sudah terjadi sehari sebelumnya. Hingga pukul 09.22 WIB IHSG berhasil bertengger di level 5.96301 dengan kenaikan impresif 103 persen. Ini adalah lonjakan beruntun setelah kemarin ditutup melonjak lebih dari dua persen.

Related Post
Meski demikian pergerakan IHSG pagi ini diwarnai volatilitas tinggi. Sempat menyentuh titik terendah 5.85058 namun indeks berhasil bangkit dan melaju lebih dari satu persen. Data Bursa Efek Indonesia BEI mencatat sebanyak 356 saham menguat sementara 228 saham melemah dan 375 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp362 triliun dengan volume perdagangan 503 miliar saham dalam 403.900 kali transaksi.

Kinerja cemerlang IHSG ini terjadi di tengah bayang-bayang sentimen global yang penuh ketidakpastian. Pelaku pasar terus memantau perkembangan geopolitik dan ekonomi makro internasional. Ironisnya di tengah penguatan IHSG investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih net sell senilai Rp313 triliun di seluruh pasar pada perdagangan sebelumnya.
Situasi pasar keuangan Indonesia hari ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Selain ketahanan fiskal dalam negeri dan kelanjutan ekonomi global dua kabar buruk dari Amerika Serikat berpotensi merusak pesta penguatan IHSG dan rupiah. Ancaman tersebut datang dari eskalasi konflik militer dan lonjakan inflasi di Negeri Paman Sam.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Komando Pusat AS CENTCOM mengumumkan bahwa militer AS melancarkan serangan tambahan ke Iran pada Rabu pukul 17.15 waktu ET. Serangan ini diklaim sebagai bentuk pertahanan diri dan respons atas agresi Iran yang berkelanjutan. Di sisi lain media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran juga menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz dengan rudal dan drone. Presiden AS Donald Trump bahkan menegaskan akan menghantam Iran lebih keras lagi setelah serangan sebelumnya.
Tak hanya itu data inflasi Amerika Serikat untuk periode Mei 2026 yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Rabu malam juga mengejutkan. Inflasi tahunan melonjak ke level 42 persen naik signifikan dari 38 persen pada April dan menjadi rekor tertinggi sejak April 2023. Secara bulanan inflasi umum naik 05 persen didominasi oleh kenaikan indeks harga energi sebesar 39 persen bulanan atau 235 persen tahunan. Untungnya inflasi inti yang tidak termasuk energi dan pangan masih lebih moderat dengan kenaikan 02 persen bulanan dan 29 persen tahunan.
Merespons data inflasi ini pasar memproyeksikan Bank Sentral AS The Fed akan menahan suku bunga acuannya pada pertemuan 17 Juni mendatang. Potensi kenaikan suku bunga diperkirakan baru akan terjadi pada Desember. Menariknya Ketua The Fed yang baru Kevin Warsh justru mengisyaratkan bahwa suku bunga bisa saja bergerak lebih rendah di masa depan. Warsh meyakini lonjakan produktivitas akibat pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan AI akan membawa dampak disinflasi yang signifikan bagi perekonomian global.










Tinggalkan komentar