haluannews.id – Lembaga Penjamin Simpanan LPS kini menyoroti serius masih banyaknya masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses terhadap layanan perbankan atau sering disebut sebagai kelompok unbanked. Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu baru-baru ini menyatakan bahwa jumlah penduduk yang tak tersentuh jasa keuangan bank ditargetkan menyusut hingga 13 juta orang pada akhir tahun ini khususnya untuk kelompok usia produktif.

Related Post
Anggito menjelaskan data LPS menunjukkan tren positif penurunan jumlah warga unbanked selama tiga tahun terakhir. Angka ini berkurang signifikan dari 59,8 juta jiwa pada 2023 menjadi 53,2 juta jiwa di 2024 dan diproyeksikan kembali merosot ke 49,7 juta jiwa pada 2025. Penurunan paling mencolok terlihat pada segmen usia produktif 15-69 tahun yang jumlahnya melorot dari 23,5 juta orang di 2023 menjadi 18,2 juta di 2024 dan diperkirakan mencapai 15,3 juta pada 2025.

"Setiap tahun kami mengemban misi untuk mengurangi jumlah penduduk yang belum punya rekening bank. Saat ini ada sekitar 15 juta jiwa dari usia produktif yang belum memiliki akses perbankan. Kami menargetkan penurunan sebanyak 2 juta jiwa setiap tahunnya. Jadi pada akhir tahun ini kami berharap angka tersebut bisa turun menjadi 13 juta orang," ungkap Anggito dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta.
Target ambisius ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang menginginkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dapat mengakses layanan keuangan bank. "Bapak Presiden pernah memberikan mandat kepada kami agar dalam kurun waktu tiga tahun seluruh penduduk Indonesia sudah mulai memiliki rekening bank. Ini menjadi target utama kami," tegasnya.
Untuk mewujudkan misi tersebut LPS telah menginisiasi berbagai program salah satunya melalui penyelenggaraan Financial Festival di Yogyakarta belum lama ini. Acara tersebut merupakan kolaborasi dengan berbagai institusi dan lembaga keuangan lain yang memiliki visi serupa dalam mendorong inklusi keuangan. Festival ini berhasil menarik lebih dari 11 ribu pengunjung didominasi oleh pelajar SMA dan mahasiswa yang memang menjadi sasaran utama LPS dalam menjangkau generasi produktif.
Potret sektor keuangan di Daerah Istimewa Yogyakarta DIY pada 2025 menunjukkan dinamika menarik. Proporsi penabung dengan saldo di bawah Rp100 juta tercatat menurun 2 persen sementara jumlah penabung dengan saldo di atas Rp5 miliar justru meningkat 3 persen. Meskipun demikian pertumbuhan kredit masih tergolong rendah di angka 6,14 persen dengan rasio LDR Loan to Deposit Ratio sebesar 65 persen menandakan tingginya likuiditas perbankan di wilayah tersebut. DIY juga mencatat surplus dana perbankan sebesar Rp31,4 triliun namun ironisnya sekitar 20 persen rekening yang ada masih berstatus tidak aktif. Selain itu sekitar 16 persen penduduk usia produktif 15-70 tahun di DIY masih belum tersentuh layanan perbankan.
Pimpinan Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun turut memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Financial Festival 2026. Ia memandang Yogyakarta sebagai kota yang sangat inklusif dan ideal untuk kegiatan edukasi keuangan kepada masyarakat. "Sebagai pandangan pribadi saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk Jogja Financial Festival. Terima kasih karena saya melihat Jogja adalah kota yang sangat inklusif," ujarnya.
Secara nasional distribusi penduduk unbanked menunjukkan variasi antar wilayah. Kalimantan menempati posisi tertinggi dengan 24,67 persen dari total penduduk disusul Sulawesi Maluku dan Papua Sulampua sebesar 22,83 persen. Sementara itu Jawa mencatat 19,21 persen Sumatera 18,27 persen dan Bali-Nusa Tenggara Balinusra menjadi wilayah dengan tingkat unbanked terendah yakni 13,27 persen.
Di sisi lain LPS juga mencatat fenomena peningkatan jumlah rekening tidak aktif secara nasional. Pada 2023 tercatat 144,09 juta rekening tidak aktif angka ini melonjak menjadi 158,77 juta pada 2024 dan terus bertambah hingga 173,42 juta rekening pada 2025. Pertumbuhan tahunan rekening tidak aktif mencapai 9,52 persen pada 2023 meningkat menjadi 10,18 persen pada 2024 sebelum sedikit melambat menjadi 9,23 persen pada 2025. LPS mendefinisikan rekening tidak aktif sebagai rekening simpanan bank umum non-digital dengan saldo maksimal Rp50 ribu dan tidak mengalami perubahan nilai sepanjang tahun.








Tinggalkan komentar