haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Kamis (16/7/2026) dengan performa mengejutkan, melaju di zona hijau di tengah gejolak pasar global. Kenaikan ini kontras dengan kondisi bursa saham di kawasan Asia Pasifik yang justru ambruk, dihantam badai penjualan saham teknologi raksasa.

Related Post
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 09.00 WIB, IHSG tercatat menguat 0,24% atau naik 28,51 poin, mencapai level 6.056,75. Sebanyak 202 emiten berhasil mengukir kenaikan, sementara 62 saham melemah dan 355 lainnya stagnan. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 96,87 miliar, melibatkan 183,12 juta saham dalam 38.208 kali transaksi. Beberapa saham yang paling aktif diperdagangkan meliputi RANS, PRDL, RAJA, BBRI, dan TPIA.

Pergerakan pasar hari ini dipengaruhi oleh serangkaian data makroekonomi penting yang baru dirilis. Pelaku pasar domestik dan internasional sedang mencerna laporan perlambatan pertumbuhan ekonomi China yang tak terduga, serta meredanya laju inflasi produsen di Amerika Serikat. Di dalam negeri, Bank Indonesia juga telah mengumumkan data utang luar negeri, memberikan sinyal stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi bayang-bayang yang mempengaruhi sentimen investor. Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data konsumsi dan pasar tenaga kerja AS, serta menanti laporan inflasi dari Eropa yang dijadwalkan pada akhir pekan.
Namun, pemandangan berbeda terlihat di bursa saham Asia Pasifik. Indeks-indeks acuan utama di kawasan ini ramai-ramai terjun bebas, dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham perusahaan teknologi terkemuka. KOSPI Korea Selatan mencatat penurunan paling dalam, ambruk lebih dari 7%, sementara Nikkei 225 Jepang terkoreksi lebih dari 3%. Indeks saham utama lainnya seperti Shanghai, Singapura, dan Australia juga kompak bergerak di zona merah.
Sektor semikonduktor Asia menjadi sorotan utama atas kemerosotan ini. Aksi jual saham pembuat chip di AS yang terjadi semalam telah meluas ke pasar Asia. Saham SK Hynix, misalnya, anjlok lebih dari 9% di Seoul, membalikkan kenaikan 8% pada sesi sebelumnya. Volatilitas tinggi ini terjadi sejak pencatatan sahamnya di AS pekan lalu, di mana investor mulai mengunci keuntungan di tengah kekhawatiran terkait pengeluaran untuk kecerdasan buatan (AI).
Pesaing utamanya di Korea Selatan, Samsung Electronics, juga tak luput dari dampak, turun lebih dari 7%. Seoul Semiconductor kehilangan lebih dari 5%, LG Innotek sekitar 1%, dan Samsung SDI merosot lebih dari 2%. Gelombang pelemahan ini turut menyebar ke Jepang, dengan produsen peralatan terkait AI Advantest turun lebih dari 6%, SoftBank Group hampir 7%, Tokyo Electron kehilangan lebih dari 5%, dan Renesas Electronics anjlok 4%. Kondisi ini mencerminkan tren serupa di AS, di mana Micron Technology anjlok 8%, Intel lebih dari 4%, serta Lam Research dan Advanced Micro Devices masing-masing sekitar 3%.










Tinggalkan komentar