Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat performa impresif pada perdagangan hari ini, berhasil melesat di atas level psikologis 8.000 dan ditutup menguat signifikan 2,53% ke posisi 8.122. Lonjakan ini mengindikasikan optimisme kuat dari para pelaku pasar terhadap prospek ekonomi domestik, terutama didorong oleh respons positif terhadap inisiatif reformasi pasar modal.

Related Post
Aktivitas perdagangan juga menunjukkan vitalitas yang tinggi, dengan total volume transaksi mencapai 58,38 miliar saham dan nilai transaksi yang menyentuh angka Rp29,28 triliun. Angka-angka ini menegaskan kepercayaan investor yang solid terhadap fundamental pasar saham Indonesia.

Menurut Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, pergerakan IHSG saat ini berada dalam lintasan teknikal yang sangat menjanjikan. "Secara teknikal, penguatan IHSG terjadi setelah berhasil menguji area 38,2% Fibonacci retracement, didukung oleh indikator Relative Strength Index (RSI) yang sebelumnya mengindikasikan kondisi oversold," jelas Nafan kepada Haluannews.id, Selasa (3/2). Ia menambahkan, level support krusial bagi IHSG berada di 7.836 dan 7.701, sementara level resistance terdekat yang berpotensi diuji adalah 8.054 dan 8.210. Selama indeks mampu mempertahankan posisinya di atas area support, potensi penguatan lebih lanjut masih terbuka lebar.
Dari sisi sentimen domestik, Nafan menyoroti respons positif pasar terhadap langkah-langkah reformasi yang diusulkan oleh regulator pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah mengajukan sejumlah proposal kepada MSCI. Usulan perbaikan ini mencakup peningkatan transparansi pengungkapan kepemilikan saham, perluasan likuiditas pasar, serta rencana kenaikan batas minimum free float secara bertahap dari 7,5% menjadi 15%, dengan target implementasi awal pada Maret 2026. Selain itu, komitmen untuk memperkuat kualitas data investor melalui klasifikasi 27 sub-tipe investor dan pembaruan data berkala juga menjadi fokus utama.
Sementara itu, sentimen global turut memberikan dukungan. Pelaku pasar global masih mengantisipasi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan mendatang. Kendati demikian, probabilitas pemangkasan suku bunga lanjutan pada pertengahan 2026 tetap terbuka jika inflasi dapat dikendalikan. Optimisme terhadap kinerja laporan keuangan emiten teknologi berkapitalisasi besar, ditambah dengan penantian rilis data tenaga kerja, juga menjadi katalis positif bagi pasar saham global.
"Kombinasi harmonis antara faktor teknikal yang kuat, sentimen domestik yang pro-reformasi, dan kondisi eksternal yang mendukung, menjadi landasan kokoh bagi IHSG untuk menjaga stabilitasnya dengan kecenderungan menguat dalam jangka pendek," pungkas Nafan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar