Haluannews Ekonomi – Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan dinamika tak terduga. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dari tekanan sepanjang hari, menutup perdagangan Kamis (9/4/2026) dengan penguatan 0,39% ke level 7.307,59. Kenaikan 28,38 poin ini mengejutkan setelah indeks sempat berkutat di zona merah, sehari setelah melesat lebih dari 4%.

Related Post
Aktivitas perdagangan hari ini cukup ramai, meskipun diwarnai fluktuasi. Total nilai transaksi mencapai Rp 17,01 triliun, melibatkan 29,05 miliar saham dalam 2,24 juta kali transaksi. Namun, kapitalisasi pasar sedikit terkoreksi menjadi Rp 12.956 triliun. Data menunjukkan, sebanyak 278 saham menguat, 374 melemah, dan 164 stagnan, mencerminkan sentimen pasar yang terpecah.

Mengutip data Refinitiv yang dianalisis Haluannews.id, mayoritas sektor mencatatkan kenaikan, dengan sektor infrastruktur dan energi menjadi motor penggerak utama yang mencatatkan kenaikan terdalam. Sebaliknya, sektor finansial dan properti menjadi penekan utama kinerja indeks. Emiten perbankan raksasa seperti BBCA, BBRI, dan BMRI tercatat sebagai laggard utama yang menahan laju penguatan lebih lanjut. Sementara itu, saham-saham seperti BUMI, BBCA, BBRI, BMRI, dan DEWA paling aktif diperdagangkan oleh investor. Penggerak indeks utama datang dari konglomerasi besar seperti BREN, TPIA, BYAN, dan MSIN.
Penguatan IHSG ini terjadi di tengah bayang-bayang sentimen global yang kurang kondusif. Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah parlemen Iran menuduh AS melanggar kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang baru diumumkan. Situasi ini memicu lonjakan harga minyak dunia, dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei naik 2,3% menjadi US$96,63 per barel, dan Brent kontrak Juni menguat 1,87% ke US$96,50 per barel.
Di sisi lain, risalah Federal Open Market Committee (FOMC) Maret menunjukkan nada hawkish dari The Fed. Sejumlah pejabat mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga, berbeda dari kecenderungan pemangkasan yang terlihat sejak 2024. Inflasi yang tetap di atas target 2%, terutama didorong oleh lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, menjadi alasan utama. The Fed kini mengadopsi pendekatan "dua arah", yang berarti suku bunga bisa naik atau turun tergantung arah inflasi, dengan risiko inflasi jangka panjang yang dinilai meningkat.
Respons pasar Asia-Pasifik bervariasi. Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,6% dan Kosdaq datar. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang naik tipis 0,12% dan Topix menguat 0,26%, namun S&P/ASX 200 Australia melemah 0,24%. Di pasar berjangka AS, kontrak S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,1%, sementara Dow Jones Industrial Average melemah kurang dari 0,1%. Perlu dicatat, lonjakan Wall Street pada perdagangan sebelumnya terjadi setelah pengumuman gencatan senjata awal, sebelum tuduhan pelanggaran muncul.
Dengan berbagai dinamika ini, pasar keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang menarik, meskipun prospek global masih diselimuti ketidakpastian. Investor diharapkan tetap mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global yang akan sangat memengaruhi pergerakan pasar ke depan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar