haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG berhasil menunjukkan performa positif pada perdagangan Selasa 18 Agustus mengakhiri sesi dengan kenaikan 075 persen dan parkir di level 644983. Penguatan ini didorong oleh aksi beli pada sejumlah saham unggulan. Bayan Resources BYAN menjadi bintang dengan lonjakan fantastis 1997 persen diikuti oleh BRMS yang naik 403 persen dan EMAS yang menguat 331 persen.

Related Post
Namun tidak semua saham bernasib sama. Beberapa emiten justru menjadi beban bagi indeks seperti BBRI yang terkoreksi 128 persen BBCA melemah 079 persen dan MPRO anjlok 654 persen. Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih senilai Rp68926 miliar di pasar reguler dan Rp35517 miliar di seluruh pasar. Secara sektoral mayoritas atau 10 dari 11 sektor ditutup menghijau dengan sektor energi memimpin kenaikan 224 persen sementara sektor finansial menjadi satu-satunya yang merosot 029 persen.

Di sisi lain sentimen pasar global kurang mendukung. Bursa saham Amerika Serikat AS bergerak lesu. Indeks Dow Jones turun 022 persen ke 53343 S&P 500 terkoreksi 069 persen ke 7691 dan Nasdaq melemah 133 persen ke 26289. ETF EIDO juga mencatatkan penurunan masing-masing 032 persen dan 059 persen.
Dari ranah kebijakan FTSE Russell kembali menunda implementasi penuh perubahan pada indeks saham Indonesia hingga setidaknya tinjauan Desember 2026. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan progres reformasi pasar serta upaya peningkatan transparansi data kepemilikan saham di Tanah Air. Pada tinjauan September 2026 FTSE Russell hanya akan menerapkan penyesuaian terbatas mencakup klasifikasi industri pembaruan jumlah saham dan free float dalam batasan tertentu penghapusan saham yang tidak lagi memenuhi kriteria indeks serta penyesuaian capping dan Weight Adjustment Factor WAF. Sementara itu perubahan segmen kapitalisasi peningkatan free float perubahan WAF dari nol menjadi positif serta penambahan saham baru termasuk IPO masih ditangguhkan. FTSE Russell juga akan menghapus saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration HSC efektif mulai 21 September 2026. Penundaan rebalancing penuh ini diharapkan memberi ruang lebih bagi proses reformasi pasar Indonesia.
Beberapa aksi korporasi menarik juga mewarnai pasar. Era Media Sejahtera DOOH kini memiliki pengendali baru setelah Sinergi Internasional Investama SII merampungkan akuisisi 395 miliar saham atau setara 51 persen kepemilikan DOOH dari PT Prambanan Investasi Sukses pada 30 Juli 2026. Transaksi senilai Rp19734 miliar ini dilakukan dengan harga Rp50 per saham. SII sendiri dikendalikan oleh Tinawati yang merupakan pemilik manfaat akhir UBO dengan kepemilikan 9990 persen dan juga UBO PT Solusi Sinergi Digital. Dengan perubahan kendali ini SII wajib melaksanakan Penawaran Tender Wajib atas saham DOOH sesuai POJK No 9/2018 dengan harga dan jadwal yang akan diumumkan kemudian. SII juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnis DOOH.
Spekulasi panas juga menyelimuti Bayan Resources BYAN terkait potensi akuisisi oleh Grup Jhonlin milik Haji Isam. Rumor ini menguat setelah Haji Isam bersama pengendali BYAN Low Tuck Kwong dan Norman Joesoef melakukan peninjauan lapangan di area tambang BYAN Kutai Kartanegara pada 15 Agustus. Beberapa laporan menyebut adanya kemungkinan pengambilalihan hingga 62 persen saham BYAN. Namun hingga kini belum ada keterbukaan informasi resmi dari BYAN maupun Grup Jhonlin mengenai nilai transaksi struktur akuisisi atau kepastian pelaksanaannya. Oleh karena itu rencana ini masih sebatas spekulasi pasar. Investor juga menantikan agenda RUPSLB PT Jhonlin Agro Raya JARR yang dijadwalkan pada 21 September 2026 namun agendanya belum diungkapkan.
Mega Capital Sekuritas turut memberikan rekomendasi saham pilihan untuk hari ini di antaranya IRSX AADI hingga INKP.
Disclaimer Ingat bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.









Tinggalkan komentar