haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG menunjukkan performa positif pada perdagangan sesi pertama Kamis 9 Juli 2026. Pasar modal domestik sedikit bangkit di tengah gejolak sentimen global yang terus memanas dan antisipasi terhadap sejumlah katalis ekonomi.

Related Post
Pada penutupan sesi pertama hari ini IHSG tercatat menguat tipis ke level 5.88569. Angka ini merefleksikan kenaikan 1232 poin atau setara 021 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Data bursa menunjukkan 319 saham berhasil terapresiasi 268 saham melemah dan 199 saham bergerak stagnan. Total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia kini mencapai Rp10.309 triliun.

Mayoritas sektor perdagangan membukukan kenaikan signifikan dipimpin oleh sektor barang baku energi dan konsumer. Sebaliknya sektor kesehatan teknologi properti dan finansial justru mengalami kontraksi. Beberapa emiten yang menjadi penopang utama kinerja IHSG hari ini antara lain AMMN BRMS BUMI VKTR dan BMRI.
Meski demikian pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Sejumlah faktor eksternal diprediksi menjadi beban berat bagi pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah. Salah satunya adalah eskalasi konflik global serta revisi proyeksi ekonomi dunia.
Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah militer Amerika Serikat AS melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu 8 Juli 2026. Serangan ini bertujuan melemahkan kemampuan Teheran mengancam jalur pelayaran vital di Selat Hormuz yang menjadi arteri seperlima pasokan minyak dunia. Komando Pusat AS CENTCOM menyatakan operasi ini adalah balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang sehari sebelumnya. Presiden AS Donald Trump bahkan menegaskan kesepakatan sementara dengan Iran telah "berakhir" dan mengancam respons yang lebih keras jika serangan berulang.
Gelombang serangan terbaru disebut akan lebih besar dan telah mengguncang sejumlah kota pesisir selatan Iran seperti Bandar Abbas Konarak dan Chabahar menyebabkan pemadaman listrik serta kerusakan fasilitas maritim. Sebagai balasan media pemerintah Iran melaporkan Teheran tengah menyiapkan serangan besar terhadap pangkalan militer AS di kawasan. Iran juga mempertimbangkan langkah drastis seperti keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir NPT mengubah doktrin nuklir hingga menutup Selat Bab el-Mandeb jalur pelayaran strategis lainnya. Eskalasi ini kembali meredupkan harapan perdamaian permanen dan memicu kenaikan harga minyak dunia lebih dari US$1 per barel dengan Brent diperdagangkan di kisaran US$7928 per barel.
Di sisi lain Dana Moneter Internasional IMF kembali merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi hanya 3 persen lebih rendah dari 35 persen pada 2025. Laporan terbaru IMF menyebut revisi ini mencerminkan dampak berkepanjangan dari perang di Timur Tengah lonjakan harga energi serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang membebani prospek ekonomi dunia. Dalam laporan World Economic Outlook WEO yang dirilis Rabu 8 Juli 2026 IMF menyoroti konflik antara Amerika Serikat Israel dan Iran sebagai salah satu risiko terbesar bagi perekonomian global.
Meskipun demikian IMF menilai dampak negatif konflik tersebut masih dapat diredam oleh pesatnya investasi di bidang kecerdasan buatan artificial intelligence AI dan teknologi lainnya yang terus menopang aktivitas ekonomi global. IMF memperkirakan inflasi global justru meningkat menjadi 47 persen pada 2026 lebih tinggi dibandingkan 41 persen pada 2025 seiring kenaikan tajam harga komoditas terutama energi. Dalam proyeksinya IMF mengasumsikan harga minyak rata-rata berada di kisaran US$89 per barel dengan harga energi saat ini sekitar 25 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang pecah.
Untuk Indonesia IMF tetap mempertahankan proyeksinya yakni pertumbuhan ekonomi sebesar 50 persen di 2026 dan 51 persen pada 2027 menunjukkan resiliensi di tengah badai global.










Tinggalkan komentar