IHSG Melaju Kencang Ditopang Tambang, Pasar Global Bergejolak!

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan awal pekan, Senin (27/4/2026), dengan performa positif. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini menguat signifikan sebesar 0,65% atau 46,13 poin, menembus level 7.175,62 pada akhir sesi pertama. Kenaikan ini didorong oleh aksi beli yang masif pada saham-saham emiten pertambangan dan komoditas, di tengah volume transaksi yang terbilang tinggi.

COLLABMEDIANET

Aktivitas perdagangan di bursa hari ini menunjukkan antusiasme investor, dengan nilai transaksi mencapai Rp 10,36 triliun. Sebanyak 22,21 miliar saham berpindah tangan dalam 1,41 juta kali transaksi. Mayoritas saham berhasil parkir di zona hijau, mencerminkan sentimen pasar yang optimistis.

IHSG Melaju Kencang Ditopang Tambang, Pasar Global Bergejolak!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Secara sektoral, sektor barang baku dan infrastruktur menjadi motor penggerak utama penguatan IHSG, mencatatkan kenaikan tertinggi. Sebaliknya, sektor keuangan dan energi justru mengalami koreksi pada perdagangan hari ini.

Menurut data pasar yang dihimpun Haluannews.id, saham-saham komoditas menjadi kontributor utama lonjakan IHSG. Saham Amman Mineral Internasional (AMMN) memimpin dengan penguatan impresif 8,5% ke level Rp 5.425 per saham, menyumbang 18,43 poin indeks. Tak ketinggalan, Merdeka Gold Resources (EMAS) melonjak 4,84% dengan sumbangan 6,63 poin, diikuti Bumi Resources (BUMI) yang naik 5,56% dan berkontribusi 5,89 poin. Emiten tambang lain seperti Bumi Resources Mineral (BRMS) dan Aneka Tambang (ANTM) juga turut menjadi penggerak kinerja IHSG.

Beberapa saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu juga terpantau mengalami lonjakan harga, membalikkan tekanan jual yang terjadi pada pekan sebelumnya. Hanya saham Petrosea (PTRO) yang tercatat melemah di antara grup Barito.

Di sisi lain, saham-saham bank berkapitalisasi besar mencatat nilai transaksi terbesar namun dengan pergerakan harga yang bervariasi. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin dengan total transaksi mencapai Rp 2 triliun, namun saham ini justru melorot dan sempat menyentuh level Rp 5.975, atau turun lebih dari 1%. Sementara itu, saham Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) masing-masing mencatat nilai transaksi Rp 1,65 triliun dan Rp 830 miliar.

Pergerakan IHSG hari ini selaras dengan mayoritas bursa di kawasan Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,53% dan berhasil mencapai rekor tertinggi baru. Senada, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 1% dan juga mencatatkan rekor tertinggi. Namun, tidak semua bursa regional bergerak positif, indeks S&P/ASX 200 Australia justru terkoreksi 0,54%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 26.041, sedikit di atas penutupan terakhir indeks tersebut di 25.978,07.

Secara global, sentimen pasar tetap stabil meskipun harapan terhadap terobosan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali menipis. Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad, Pakistan, pada Sabtu lalu untuk negosiasi dengan Iran. "Terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan! Selain itu, ada perselisihan internal yang hebat dan kebingungan di dalam ‘kepemimpinan’ mereka," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social, seperti dikutip Haluannews.id.

Pembatalan negosiasi ini segera berdampak pada harga minyak mentah global, yang melonjak sekitar 2%. Kontrak berjangka minyak Brent, patokan internasional, naik lebih dari 2% menjadi US$107,49 per barel, sementara minyak mentah AS juga melonjak 1,79% menjadi US$96,19. Ketegangan di Selat Hormuz juga tetap tinggi setelah Pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan menaiki dua kapal kargo di dekat jalur laut strategis tersebut.

Pasar keuangan Indonesia pekan ini hanya akan berlangsung selama empat hari, yakni Senin hingga Kamis, mengingat adanya Libur Hari Buruh pada 1 Mei mendatang. Fokus utama pasar pekan ini akan tertuju pada perkembangan terbaru negosiasi AS-Iran, keputusan suku bunga The Federal Reserve, rilis inflasi PCE AS, data manufaktur AS dan China, serta keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ).

Pasar secara luas memperkirakan The Fed masih akan menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%. Ekspektasi ini muncul mengingat inflasi AS yang masih berada di atas target, ditambah lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah yang membuat bank sentral AS sulit untuk bergerak terlalu cepat dalam melonggarkan kebijakan moneternya.

Keputusan The Fed kali ini akan sangat krusial bagi pasar global. Jika The Fed memberikan sinyal untuk menahan suku bunga lebih lama, dolar AS berpotensi tetap kuat, yang bisa kembali menekan mata uang Asia, termasuk rupiah. Sebaliknya, jika pernyataan The Fed mulai terdengar lebih lunak karena mempertimbangkan risiko perlambatan ekonomi, pasar dapat membaca adanya peluang penurunan suku bunga pada semester berikutnya. Skenario ini dapat memberikan ruang bagi penguatan obligasi dan aset berisiko, termasuk saham di pasar berkembang.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar