Haluannews Ekonomi – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyerukan imbauan krusial kepada Generasi Z (Gen Z), kelompok usia yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, agar tidak gegabah dalam menapaki dunia investasi saham. Penekanan ini bukan tanpa alasan, mengingat dominasi Gen Z yang mencapai 57% dari total 20,36 juta investor ritel di pasar modal domestik. Fenomena ini menyoroti urgensi edukasi finansial yang mendalam bagi segmen demografi yang sangat aktif ini.

Related Post
Dalam sebuah kesempatan di acara Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana serta Pembukaan Pekan Reksa Dana Tahun 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (27/4/2026), Purbaya mengutarakan pandangannya. "Seringkali, Gen Z cenderung merasa sudah menguasai segalanya, mirip dengan saya di masa muda. Langsung terjun, mencoba berbagai strategi tanpa bekal yang cukup," ujarnya, menggambarkan pola perilaku yang perlu diwaspadai.

Purbaya menegaskan, fondasi utama sebelum berpartisipasi di pasar saham adalah penguasaan literasi investasi yang mumpuni. Tanpa bekal pengetahuan yang memadai, risiko kerugian modal menjadi sangat tinggi. Oleh karena itu, bagi investor pemula atau yang belum memiliki kapabilitas riset mendalam, opsi investasi melalui pengelola dana profesional seperti Reksa Dana dapat menjadi solusi strategis untuk melindungi aset.
Ia menyarankan, "Jika belum memiliki ilmu yang cukup, biarkan para profesional yang mengelola dana Anda. Sambil berjalan, Anda bisa mempelajari bagaimana para ahli tersebut bekerja, menganalisis strategi dan keputusan investasi mereka." Ini adalah fase pembelajaran krusial sebelum melangkah lebih jauh.
Setelah akumulasi pengetahuan dan pengalaman dirasa cukup, barulah investor muda dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi langsung di pasar saham tanpa perantara. Purbaya menegaskan bahwa keberhasilan investasi bukanlah hasil instan dari sekadar partisipasi. "Jika Anda merasa sudah lebih kompeten, barulah Anda bisa terjun langsung. Intinya, untuk investor muda, kesuksesan investasi tidak datang secara otomatis hanya karena Anda masuk ke pasar saham. Pelajari dulu ilmunya, baru kemudian Anda bisa meraih keuntungan yang bahkan melampaui para profesional di pasar modal," tegasnya. Namun, ia mengingatkan, "Jika belum, tetaplah mengikuti jalur yang lebih aman sambil terus belajar."
Dalam konteks ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut berperan aktif dengan meluncurkan Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana. Inisiatif ini dirancang khusus untuk memfasilitasi investor muda agar dapat memasuki arena pasar modal dengan lebih terarah dan aman.
Program PINTAR Reksa Dana, jelas Purbaya, berorientasi pada pembentukan kebiasaan investasi Reksa Dana yang bertahap, teratur, dan berkelanjutan di kalangan masyarakat. Dengan skema investasi berkala, investor dimungkinkan untuk mengalokasikan sejumlah dana secara konsisten dalam interval waktu tertentu, meminimalkan dampak fluktuasi pasar jangka pendek.
Purbaya juga mengingatkan bahwa setiap bentuk investasi selalu menyertakan risiko. "Prinsip high risk-high gain, no risk-no gain, dan low risk-low gain adalah keniscayaan dalam investasi. Menabung di bank, misalnya, tidak dapat dikategorikan sebagai investasi murni karena tingkat risikonya yang minimal, hanya bergantung pada stabilitas bank itu sendiri," jelasnya. Ia menekankan pentingnya pemahaman bagi investor muda maupun masyarakat umum yang awam terhadap pasar modal. "Ada para ahli yang mengelola dana di pasar modal dengan rekam jejak yang baik. Meskipun risiko tetap ada, pengelolaan mereka cenderung lebih terukur. Program PINTAR ini hadir sebagai respons inovatif terhadap potensi risiko yang melekat pada skema Reksa Dana konvensional, menawarkan pendekatan yang lebih terstruktur," pungkas Purbaya.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar