Haluannews Ekonomi – Jakarta, Haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Indeks acuan pasar modal Indonesia ini naik tipis 8,24 poin atau 0,12%, menutup sesi di level 7.080,63. Kenaikan minimalis ini terjadi di tengah bayang-bayang sentimen global yang cukup menantang, mulai dari ketegangan geopolitik hingga antisipasi keputusan bank sentral utama dunia.

Related Post
Pergerakan IHSG hari ini didukung oleh kenaikan 362 saham, meskipun 303 saham lainnya terkoreksi dan 147 saham stagnan. Nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp 8,41 triliun, melibatkan 26,88 juta saham dalam 1,47 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar juga menunjukkan peningkatan, mencapai Rp 12.620 triliun, mencerminkan optimisme terbatas di kalangan investor domestik.

Sektor-sektor yang menjadi penopang utama penguatan IHSG adalah konsumer primer, industri, dan keuangan, menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian. Sementara itu, sektor kesehatan, barang baku, dan energi mengalami koreksi paling dalam, mungkin terpengaruh oleh fluktuasi harga komoditas dan kekhawatiran biaya. Beberapa saham yang turut menggerakkan indeks antara lain IMPC, GOTO, APIC, TLKM, dan BMRI.
Fokus pelaku pasar global hari ini tertuju pada beberapa isu krusial yang berpotensi memicu volatilitas. Salah satunya adalah perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden AS Donald Trump dilaporkan tidak puas dengan proposal terbaru dari Iran yang ingin menunda pembahasan program nuklir hingga konflik berakhir dan masalah jalur pelayaran di Teluk terselesaikan. Washington, di sisi lain, bersikeras agar isu nuklir dibahas sejak awal proses negosiasi. Gedung Putih menegaskan garis merah AS sudah jelas dan tidak akan bernegosiasi melalui media, menandakan kebuntuan yang berpotensi memperpanjang ketegangan.
Sentimen penting lainnya datang dari bank sentral AS, The Federal Reserve, yang menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari (28-29 April 2026). Keputusan suku bunga The Fed akan diumumkan pada Rabu malam waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Pasar secara luas memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga acuannya di level 3,50%-3,75%. Ekspektasi ini didasari oleh inflasi AS yang masih di atas target, serta lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah yang mempersulit The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya terlalu cepat. Kebijakan ini akan menjadi penentu arah dolar AS, imbal hasil obligasi AS, dan selera risiko investor terhadap aset negara berkembang.
Di sektor energi, Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi keluar dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Selasa. Langkah ini dinilai dapat mengguncang stabilitas kelompok produsen minyak dunia di tengah krisis energi yang dipicu oleh konflik Iran. Keputusan UEA ini berpotensi melemahkan pengaruh OPEC dan memperlebar jarak antara Abu Dhabi dengan Arab Saudi, yang selama ini menjadi pemimpin de facto kartel tersebut.
Menteri Energi UEA Suhail Al Mazrouei menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah meninjau strategi energi nasional dan kebutuhan energi global di masa mendatang. Analis pasar memperkirakan keluarnya UEA dapat menekan harga minyak dalam jangka menengah, mengingat UEA memiliki kapasitas produksi cadangan yang besar. Jika UEA meningkatkan produksinya tanpa terikat kuota OPEC, dominasi Riyadh dalam menjaga keseimbangan pasar minyak global bisa terganggu, sekaligus menegaskan rivalitas yang semakin terbuka antara UEA dan Saudi dalam kebijakan minyak, perebutan investasi, dan pengaruh di kawasan Teluk.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar