haluannews.id – Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak nyaris tak beranjak pada sesi perdagangan pertama hari ini Senin 3 Agustus 2026. Pelaku pasar terlihat menahan diri sembari mencermati berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri yang akan mewarnai pergerakan pasar sepanjang pekan ini.

Related Post
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 12.00 WIB, IHSG tercatat berada di level 6.234,29. Angka ini menunjukkan penurunan tipis 1,83 poin atau setara 0,03% dari posisi penutupan pekan lalu di 6.236,13.

Aktivitas perdagangan pada sesi pertama mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 7,68 triliun. Sebanyak 23,09 miliar saham berpindah tangan melalui 1,39 juta kali transaksi. Rinciannya, 323 saham menguat, 294 saham melemah, sementara 169 saham lainnya bergerak stagnan. Beberapa emiten yang menjadi penekan utama laju IHSG hari ini antara lain DCII BBCA dan SRAJ.
IHSG diprediksi akan melanjutkan pergerakan fluktuatifnya sepanjang hari ini setelah pekan lalu ditutup menguat 0,64%. Investor kini menanti serangkaian data ekonomi penting serta perkembangan geopolitik yang berpotensi menentukan arah pasar di awal Agustus.
Dari kancah global, bursa saham Asia-Pasifik serentak dibuka melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang terkoreksi 1,43%, Topix turun 1,45%, dan Kospi Korea Selatan bahkan anjlok hingga 4,57%. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 juga mengalami koreksi 0,36%. Pelemahan ini terjadi kendati Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan meredanya ketegangan dengan Iran. Namun, pelaku pasar tetap waspada menanti perkembangan negosiasi serta kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Fokus pasar juga akan beralih ke rilis data-data penting dari luar negeri seperti data manufaktur dan perdagangan China, serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.
Di ranah domestik, investor akan mencermati rilis data inflasi Juli, indeks PMI manufaktur, neraca perdagangan, hingga konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Selain itu, pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 yang dijadwalkan pekan ini juga akan menjadi sorotan utama.
Meskipun investor asing membukukan pembelian bersih Rp7,10 triliun sepanjang pekan lalu, angka ini perlu dicermati lebih dalam. Mayoritas pembelian tersebut didominasi oleh transaksi jumbo saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) senilai sekitar Rp9,33 triliun di pasar negosiasi melalui skema mandatory tender offer (MTO). Tanpa transaksi MAPI, investor asing justru tercatat melakukan penjualan bersih sekitar Rp2 triliun di pasar reguler. Ini mengindikasikan bahwa tekanan jual asing memang mulai mereda dibandingkan pekan sebelumnya, namun belum cukup kuat untuk membalikkan tren menjadi akumulasi pembelian secara signifikan.
Tekanan jual asing pekan lalu masih terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Di sisi lain, sejumlah saham yang justru menarik minat investor asing antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Timah Tbk (TINS), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Dengan gabungan berbagai faktor ini, pergerakan IHSG di awal pekan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh respons pasar terhadap perkembangan geopolitik Timur Tengah, pembukaan bursa Asia, serta hasil rilis data ekonomi domestik yang mulai diumumkan sejak hari ini.









Tinggalkan komentar