IHSG Anjlok Parah Investor Asing Kabur Saham Ini Malah Terbang Tinggi

IHSG Anjlok Parah Investor Asing Kabur Saham Ini Malah Terbang Tinggi

haluannews.id – Pasar modal Indonesia menghadapi hari yang berat pada Senin (8/6) ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas, merosot 4,52% dan menutup perdagangan di level 5.342,14. Penurunan signifikan ini diwarnai oleh aksi jual masif investor asing serta sentimen negatif dari berbagai penjuru.

COLLABMEDIANET

Di tengah badai merah yang melanda, beberapa saham justru mampu menunjukkan performa gemilang. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memimpin penguatan dengan lonjakan fantastis 22,99%, diikuti oleh PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) yang naik 7,41%, dan PT Surya Multi Investama Tbk (SMMA) dengan kenaikan 4,88%. Mereka menjadi penyelamat di tengah tekanan pasar yang begitu kuat.

IHSG Anjlok Parah Investor Asing Kabur Saham Ini Malah Terbang Tinggi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, dominasi tekanan jual tak terhindarkan. Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi korban utama. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) anjlok 14,86%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) merosot 5,47%, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kehilangan 4,43% dari nilainya. Aliran dana investor asing pun mencerminkan kondisi ini, dengan penjualan bersih mencapai Rp 587,21 miliar di pasar reguler dan total Rp 447,05 miliar di seluruh pasar. Seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia tak luput dari koreksi, dengan sektor industri mencatat penurunan paling dalam sebesar 6,39%.

Situasi global juga turut mewarnai pergerakan pasar. Bursa saham Amerika Serikat menunjukkan hasil yang bervariasi; Indeks Dow Jones melemah tipis 0,16%, sementara S&P 500 dan Nasdaq berhasil menguat masing-masing 0,30% dan 0,86%.

Prospek IHSG ke depan masih diselimuti awan ketidakpastian. Pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh kisaran Rp 18.177 per dolar AS menjadi kekhawatiran utama, terutama jika arus keluar dana asing terus berlanjut. Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik antara Iran dan Israel berpotensi memperkeruh sentimen global, memicu kehati-hatian investor terhadap aset berisiko. Indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia pun turut terkoreksi, masing-masing sebesar 3,83% dan 5,77%.

Dari ranah aksi korporasi, beberapa emiten menarik perhatian. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana menambah modal melalui skema private placement dengan menerbitkan 218,31 juta saham baru seharga Rp 1.550 per saham. Langkah ini berpotensi meraup dana sekitar Rp 338,38 miliar, yang seluruhnya akan diserap oleh Bakrie Kalila Investment (BKI), entitas terafiliasi. Setelah transaksi, jumlah saham ENRG akan membengkak menjadi 26,56 miliar saham dengan modal disetor Rp 6,95 triliun. Distribusi saham dijadwalkan 12 Juni, dengan pengumuman hasil pada 18 Juni.

Di sektor pertambangan, PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) mengumumkan penemuan sumber daya mineral perdana (MRE) di Prospek Kolokoa. Estimasi per 1 Juni 2026 menunjukkan area ini menyimpan 42 juta ton mineral dengan kadar emas rata-rata 0,33 gram per ton, setara 445 ribu ons emas. Penemuan ini mendongkrak total inventaris sumber daya Tambang Emas Pani sebesar 6,35% menjadi 7,40 juta ons emas. Uji metalurgi awal juga menjanjikan, dengan tingkat perolehan emas material oksida 87%-94% dan material transisi 81%-92%.

Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menetapkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 221,08 per saham, total Rp 21,90 triliun. Angka ini mencerminkan rasio pembayaran dividen fantastis, 123,03% dari laba bersih perseroan. Sebanyak Rp 17,80 triliun berasal dari laba bersih 2025, sisanya Rp 4,20 triliun dari saldo laba ditahan. Keputusan ini disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Juni 2026.

Meski demikian, kinerja keuangan TLKM sepanjang 2025 mencatat penurunan. Pendapatan perseroan turun 2,15% menjadi Rp 146,74 triliun, dan laba bersih juga terkoreksi 20,49% menjadi Rp 17,80 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan harga penutupan saham Rp 2.350 pada 8 Juni, dividen yang dibagikan menawarkan imbal hasil menarik sekitar 9,41%. Pembayaran dividen ditargetkan paling lambat 10 Juli 2026.

Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual instrumen investasi tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor, disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial pribadi. Bijaklah dalam berinvestasi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar