haluannews.id – Jakarta, Jumat (11/9/2026) menjadi hari kelam bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terjun bebas saat pembukaan perdagangan, bahkan anjlok nyaris 2% tak lama setelah bel berbunyi, memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Related Post
Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan, koreksi IHSG semakin dalam hanya dalam lima belas menit pertama perdagangan. Indeks sempat menyentuh level terendah 6.466,60, merosot lebih dari 1,82%. Kondisi pasar sangat timpang, dengan hanya 75 saham yang berhasil menguat, sementara 527 saham terpuruk, dan 106 saham lainnya stagnan. Volume perdagangan di awal sesi mencapai 7,24 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp 3,29 triliun.

Menurut laporan Refinitiv, seluruh sektor perdagangan mengalami tekanan kuat hari ini. Sektor energi menjadi yang paling terpukul, diikuti oleh sektor barang baku, konsumer non-primer, dan finansial. Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi beban utama yang menyeret IHSG. Saham Bayan Resources (BYAN) menyumbang pelemahan indeks hingga 12,37 poin, disusul Bank Central Asia (BBCA) dengan 11,73 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 6,31 poin, Amman Mineral (AMMN) 5,83 poin, Bank Mandiri (BMRI) 4,34 poin, dan Bumi Resources (BUMI) 3,96 poin.
Penurunan drastis IHSG ini diyakini dipicu oleh dua "hantu" global yang kembali menghantui pasar. Pertama, kenaikan harga minyak mentah akibat eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Kedua, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Kombinasi antara tingginya yield Treasury dan melambungnya harga minyak menciptakan sentimen negatif yang kuat bagi pasar saham. Yield obligasi yang tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan menekan valuasi saham. Sementara itu, lonjakan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi global, yang pada gilirannya dapat membatasi ruang gerak bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Amerika Serikat sendiri tengah menghadapi persoalan utang yang semakin mengkhawatirkan. Utang pemerintah federal AS kini telah menembus angka US$40 triliun, mencetak rekor baru dan menjadi sinyal serius atas beratnya beban fiskal negara adidaya tersebut. Dampak dari situasi ini sudah terlihat jelas di pasar obligasi. Departemen Keuangan AS bahkan harus menyiapkan aksi pembelian kembali surat utang (buyback) hingga US$6 miliar untuk menjaga likuiditas pasar obligasi. Angka ini tiga kali lipat dari operasi normal, dengan transaksi perdana menyasar Treasury bertenor 10 dan 20 tahun.
Namun, kebijakan tersebut justru direspons negatif oleh pasar. Yield Treasury 10 tahun melonjak ke 4,84%, bahkan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2023. Yield tenor 20 tahun mencapai 5,314%, dan tenor 30 tahun menembus 5,3%. Kenaikan yield ini menjadi perhatian serius investor karena dapat mengalihkan modal dari aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia. Investor kawakan Stanley Druckenmiller bahkan memperingatkan bahwa semakin pemerintah berusaha mempertahankan harga obligasi, semakin besar operasi yang dibutuhkan untuk menghadapi tekanan pasar.
Di sisi lain, ketegangan antara Iran dan AS kembali memanas. Iran mengklaim telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz, menyusul tindakan AS yang menghancurkan lima tanker minyak Iran. Eskalasi geopolitik ini langsung mengguncang pasar energi. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak tajam, menembus US$100 per barel. Kontrak minyak AS dan Brent mencatat harga penutupan tertinggi sejak 19 Mei, seiring berlanjutnya konflik yang telah memasuki bulan ketujuh ini. Kenaikan harga minyak yang telah berlangsung selama lima hari berturut-turut ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global, karena dapat kembali mendorong biaya produksi dan transportasi.
Sejalan dengan IHSG, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik juga bergerak melemah pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Saham Korea Selatan dan Jepang memimpin penurunan di wilayah tersebut. Indeks acuan Korea Selatan, Kospi, anjlok 2,7%, sementara indeks Nikkei 225 Jepang turun 2,6%. Indeks S&P/ASX 200 Australia juga melemah 1%. Penurunan bursa Asia ini terjadi setelah saham-saham Amerika Serikat (AS) tertekan oleh lonjakan harga minyak pada perdagangan Kamis sebelumnya.










Tinggalkan komentar