Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 2,22% ke level 7.944 pada perdagangan sesi siang. Gelombang aksi jual melanda pasar dengan 571 saham tertekan, berbanding terbalik dengan hanya 118 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan, sementara 115 saham lainnya stagnan.

Related Post
Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan bahwa sentimen negatif yang membebani IHSG hari ini bersumber dari ketidakpastian kebijakan ekonomi global, terutama yang berasal dari Amerika Serikat (AS), serta meningkatnya tensi perdagangan antara AS dan China. "Ancaman US government shutdown dan ketegangan perdagangan AS-China masih menjadi momok bagi sentimen pasar," jelasnya kepada Haluannews.id.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve (Fed) pada akhir Oktober juga turut mewarnai dinamika pasar. Di sisi domestik, pelaku pasar menyoroti proyeksi kontraksi investasi pada kuartal III-2025, yang diperkirakan akan memberikan tekanan pada pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Senada dengan Nafan, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa sentimen pasar saham Indonesia turut dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap sektor perbankan di AS. "Eskalasi tensi dagang antara China dan AS juga memperburuk sentimen pasar," imbuhnya.
Lukman menjelaskan bahwa sentimen negatif dari sektor perbankan AS berpotensi mereda jika tidak ada perkembangan lebih lanjut yang menyeret bank-bank lain. Sementara itu, tensi dagang antara China dan AS masih menunjukkan peningkatan, meskipun ada harapan pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Trump pada akhir bulan ini. "Sentimen mungkin mereda, tetapi belum sepenuhnya hilang, sehingga investor cenderung bersikap wait and see," pungkasnya. Investor disarankan untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar