Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,67% atau 53,1 poin ke level 7.890,72. Setelah sempat anjlok lebih dari 1% pada pukul 14.30 WIB, tekanan terhadap indeks sedikit mereda. Sepanjang hari, IHSG bergerak di rentang 7.848,88-7.932,31. Tercatat 391 saham menguat, 294 saham melemah, dan 271 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 16,33 triliun dengan volume 36,79 miliar saham dalam 2,11 juta transaksi. Kapitalisasi pasar pun menyusut menjadi Rp 14.165 triliun.

Related Post
Sektor energi menjadi yang paling tertekan, anjlok 4,69%, diikuti sektor utilitas yang merosot 1,75%. Meskipun banyak saham yang menghijau, IHSG berakhir di zona merah. Penyebabnya? Anjloknya saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang ambruk hingga 13,13% ke level 80.225. Sebagai salah satu emiten dengan kapitalisasi terbesar di Bursa Efek Indonesia, keruntuhan DSSA langsung menyeret IHSG. DSSA, dengan kapitalisasi pasar Rp 618,2 triliun (lebih besar dari BYAN dan BMRI), memiliki bobot poin sebesar 46,48 terhadap IHSG.

Kejatuhan DSSA dipicu oleh pemangkasan bobot Foreign Inclusion Factor (FIF) oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Bobot FIF DSSA turun dari 0,25 menjadi 0,13, berpotensi mengurangi aliran dana asing ke emiten grup Sinar Mas tersebut. MSCI menjelaskan penyesuaian ini berdasarkan masukan pelaku pasar terkait ketidakpastian free float saham DSSA.
Selain DSSA, saham-saham milik Prajogo Pangestu, yakni BREN, BRPT, dan TPIA, juga menekan IHSG dengan bobot poin masing-masing 6,63, 4,35, dan 1,13. Sementara itu, saham-saham seperti AMMN, UNTR, TLKM, ASII, dan AMRT berupaya menahan IHSG di atas level 7.900, namun kekuatannya tak cukup melawan dampak negatif dari ambruknya DSSA.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar