IHSG Ambruk Lebih 1 Persen Investor Panik

IHSG Ambruk Lebih 1 Persen Investor Panik

haluannews.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG kembali terjerembab pada perdagangan Jumat ini mencatatkan pelemahan signifikan di sesi pertama. Pasar modal Indonesia diterpa badai aksi jual masif terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar menambah tekanan di tengah bayang-bayang sentimen global yang memburuk.

COLLABMEDIANET

Hingga penutupan sesi pertama, kinerja IHSG anjlok tajam 111 poin atau setara 1,75 persen, mengakhiri perdagangan di level 6.204,63. Data transaksi menunjukkan dominasi tekanan jual yang kuat sejak awal sesi. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 594 emiten mengalami koreksi, sementara hanya 80 saham yang mampu menguat, dan 115 saham lainnya terpantau stagnan.

IHSG Ambruk Lebih 1 Persen Investor Panik
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Aktivitas perdagangan sesi pertama mencatatkan nilai transaksi fantastis mencapai Rp 10,51 triliun. Volume perdagangan juga sangat tinggi, menembus 24,61 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,46 juta kali transaksi. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa investor cenderung melepas kepemilikan sahamnya secara agresif.

Pelemahan IHSG kali ini didorong oleh gelombang penjualan pada saham-saham unggulan, khususnya dari sektor perbankan yang sehari sebelumnya juga menjadi target utama investor asing. Pada Kamis lalu, investor asing membukukan jual bersih senilai sekitar Rp 920,3 miliar di pasar reguler, dengan saham-saham bank raksasa seperti BBCA BBRI BMRI dan BBNI menjadi sasaran utama. Tren lepas saham ini berlanjut pada perdagangan hari ini semakin menyeret indeks ke zona merah.

Selain tekanan domestik, sentimen global yang memburuk turut memperparah kondisi pasar. Kebijakan tarif impor baru yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebesar 10 hingga 12,5 persen terhadap 60 mitra dagang termasuk Indonesia kembali memicu kekhawatiran akan prospek perdagangan global. Di sisi lain, konflik di Timur Tengah menyebabkan harga minyak Brent melonjak hingga US$ 100,69 per barel mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Kenaikan harga energi ini membangkitkan kembali kecemasan akan inflasi global yang berpotensi memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kombinasi antara tekanan eksternal dan berlanjutnya aksi jual pada saham-saham perbankan membuat pelaku pasar memilih untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Hal ini menjadikan IHSG salah satu indeks yang mengalami tekanan paling dalam pada awal perdagangan hari ini. Saham-saham seperti BMRI AMMN BREN BRPT BRMS dan BUMI menjadi penekan utama yang berkontribusi pada penurunan kinerja IHSG secara keseluruhan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar