Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi pertama perdagangan Selasa (19/8/2025) di zona merah. IHSG melemah tipis 0,09% atau 7 poin ke level 7.891,04. Pergerakan ini menjauhkan IHSG dari level psikologis 8.000 yang sempat tertembus secara intraday pekan lalu. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: akankah rekor tertinggi IHSG bertahan?

Related Post
Dari data perdagangan, tercatat 397 saham menguat, 247 saham melemah, dan 156 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 10,24 triliun dengan volume 2,93 miliar saham dalam 1,31 juta kali transaksi. Meskipun saham Astra International (ASII) yang melonjak 10% menjadi penopang utama, mencegah penurunan yang lebih dalam, IHSG tetap tertekan oleh pelemahan sektor utilitas dan finansial. Sebaliknya, sektor konsumer primer dan non-primer menunjukkan penguatan.

Saham-saham perbankan besar seperti BBRI dan BBCA, serta emiten teknologi afiliasi Toto Sugiri dan Grup Salim (DCII), menjadi beban utama pelemahan IHSG hari ini. Pergerakan IHSG ini juga mencerminkan dinamika pasar saham Asia Pasifik yang variatif. Nikkei 225 Jepang naik tipis, sementara Kospi Korea Selatan dan S&P/ASX 200 Australia justru mengalami penurunan.
Pekan ini, pasar akan dihadapkan pada sejumlah agenda krusial, baik domestik maupun global. Di dalam negeri, perhatian tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan menentukan arah suku bunga. Sementara itu, pasar global menantikan keputusan rapat FOMC, kebijakan suku bunga China, dan pidato Jerome Powell di Jackson Hole yang berpotensi menjadi katalis besar pergerakan pasar. Akankah IHSG mampu bangkit dari koreksi ini? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar