Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi pertama Selasa (19/8/2025) di zona merah, menorehkan penurunan tipis 0,09% atau 7 poin ke level 7.891,04. Pergerakan ini menjauhkan IHSG dari level psikologis 8.000 yang sempat disentuh secara intraday pekan lalu, bahkan menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di angka 8.017,07. Fenomena ini tentu mengejutkan pelaku pasar setelah pekan lalu IHSG berpesta pora.

Related Post
Dari total saham yang diperdagangkan, 397 saham menguat, 247 melemah, dan 156 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 10,24 triliun dengan volume 2,93 miliar saham dalam 1,31 juta kali transaksi. Sektor utilitas dan finansial menjadi sektor yang paling tertekan, sementara sektor konsumer primer dan non primer menunjukkan kinerja positif.

Meskipun saham Astra International (ASII) berkontribusi signifikan dengan kenaikan 10% dan menyumbang 22 poin indeks, IHSG tetap tak mampu bertahan dari tekanan. Emiten perbankan besar seperti BBRI dan BBCA, serta emiten teknologi afiliasi Toto Sugiri dan Grup Salim (DCII), menjadi beban utama pelemahan IHSG hari ini.
Sentimen eksternal juga turut memengaruhi. Pasar saham Asia Pasifik dibuka beragam. Nikkei 225 Jepang naik 0,1%, sementara Topix datar. Kospi Korea Selatan turun 0,2%, Kosdaq melemah 0,33%, dan S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,61%. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong menunjukkan potensi pembukaan yang lebih baik.
Minggu ini, sejumlah agenda penting akan mewarnai pasar. Di dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang menentukan arah suku bunga menjadi sorotan utama. Secara global, keputusan rapat FOMC, kebijakan suku bunga China, dan pidato Jerome Powell di Jackson Hole akan menjadi katalis utama pergerakan pasar. Investor perlu mencermati perkembangan ini dengan seksama.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar