Harga BBM Meroket, Ekonomi Terancam! Konflik Timur Tengah Guncang Dunia

Harga BBM Meroket, Ekonomi Terancam! Konflik Timur Tengah Guncang Dunia

Haluannews Ekonomi – Konflik yang melibatkan Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel, yang baru berlangsung sekitar satu pekan, telah memicu gelombang kejutan signifikan di pasar energi global. Para pakar dan analis pasar memperingatkan bahwa bahkan jika eskalasi militer mereda dalam waktu dekat, imbasnya terhadap harga bahan bakar bisa bertahan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

COLLABMEDIANET

Gangguan pada fasilitas produksi energi, kerusakan infrastruktur vital, serta peningkatan drastis risiko pelayaran di kawasan Teluk, secara kolektif telah merusak rantai pasokan minyak dan gas dunia. Situasi ini berpotensi memaksa konsumen dan pelaku industri di berbagai belahan dunia untuk menghadapi lonjakan biaya energi yang tidak hanya tinggi, tetapi juga berkepanjangan.

Harga BBM Meroket, Ekonomi Terancam! Konflik Timur Tengah Guncang Dunia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Selain implikasi ekonomi global, ketegangan ini juga menciptakan dinamika politik yang rumit di Amerika Serikat menjelang pemilihan sela. Kenaikan harga energi dapat menjadi isu krusial bagi Presiden Donald Trump, mengingat sentimen pemilih yang sangat peka terhadap biaya hidup dan keterlibatan militer di luar negeri.

Analis dari JP Morgan menggarisbawahi perubahan fundamental dalam dinamika pasar. Mereka menyatakan bahwa pelaku pasar tidak lagi sekadar mengkalkulasi risiko geopolitik semata, melainkan kini berhadapan langsung dengan dampak operasional yang konkret. "Pasar kini bergeser dari sekadar memperhitungkan risiko geopolitik menjadi menghadapi gangguan operasional yang nyata, ketika penutupan kilang dan pembatasan ekspor mulai mengganggu pengolahan minyak mentah serta aliran pasokan regional," tulis analis JP Morgan dalam catatan riset, dikutip dari Reuters, Minggu (8/3/2026).

Pasokan Energi Global Tercekik

Konflik bersenjata ini diperkirakan telah mengganggu sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam global. Gangguan ini utamanya dipicu oleh serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis antara Iran dan Oman, serta penargetan infrastruktur energi kunci di wilayah tersebut.

Respons pasar global sangat cepat dan dramatis. Harga minyak dunia melonjak sekitar 24% sepanjang pekan ini, menembus angka US$90 per barel. Jika tren ini berlanjut, lonjakan tersebut akan menjadi yang terbesar dalam satu minggu sejak era pandemi Covid-19. Kenaikan harga minyak ini secara langsung memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.

Penyebab utama gangguan masif adalah terhentinya hampir seluruh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi ini memaksa produsen minyak utama di kawasan seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait untuk menangguhkan pengiriman minyak dalam skala besar. Total pengiriman yang tertunda diperkirakan mencapai sekitar 140 juta barel minyak, setara dengan sekitar 1,4 hari kebutuhan minyak global.

Akibatnya, fasilitas penyimpanan minyak dan gas di Teluk Timur Tengah mulai terisi penuh dengan cepat. Situasi ini mendorong sejumlah ladang minyak di Irak untuk memangkas produksinya, sementara Kuwait dan Uni Emirat Arab diperkirakan akan mengikuti langkah serupa dalam waktu dekat. "Pada titik tertentu dalam waktu dekat, semua produsen juga akan menghentikan produksi jika kapal-kapal tidak datang," kata seorang sumber dari perusahaan minyak milik negara di kawasan tersebut yang meminta anonimitas.

Pemulihan Produksi yang Berlarut-larut

Penghentian operasi ladang minyak akibat gangguan pengiriman berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kapasitas produksi energi. Amir Zaman, Kepala Tim Komersial Amerika di Rystad Energy, menekankan bahwa pemulihan produksi tidak selalu dapat dilakukan secara instan, bahkan setelah konflik mereda.

"Konflik mungkin bisa berakhir, tetapi pemulihan produksi bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, tergantung pada jenis ladang minyak, usia ladang tersebut, serta jenis penghentian produksi yang harus dilakukan sebelum produksi bisa kembali ke tingkat semula," jelasnya.

Di sisi lain, pasukan Iran juga dilaporkan menargetkan berbagai infrastruktur energi di kawasan, termasuk kilang minyak dan terminal ekspor. Serangan-serangan ini memaksa sejumlah fasilitas menghentikan operasi, sementara sebagian lainnya mengalami kerusakan yang membutuhkan perbaikan ekstensif sebelum dapat beroperasi kembali.

Qatar, salah satu eksportir gas terbesar dunia, bahkan telah mengumumkan force majeure terhadap ekspor gasnya pada Rabu, menyusul serangan drone Iran. Sumber Reuters mengindikasikan bahwa produksi kemungkinan baru bisa kembali normal setidaknya dalam satu bulan. Qatar sendiri menyumbang sekitar 20% kebutuhan gas alam cair (LNG) dunia.

Di Arab Saudi, kilang raksasa sekaligus terminal ekspor minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco juga dilaporkan menghentikan operasi akibat serangan. Rincian mengenai tingkat kerusakan masih belum tersedia. Gedung Putih sebelumnya membenarkan serangan terhadap Iran dengan alasan negara tersebut dianggap menimbulkan ancaman langsung bagi Amerika Serikat, meskipun tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Presiden Trump juga menyuarakan kekhawatirannya terkait upaya Iran untuk memperoleh senjata nuklir.

Ancaman di Selat Hormuz dan Prospek Pasar

Jika konflik dapat segera dihentikan, pasar energi kemungkinan akan menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Namun, pemulihan pasokan dan harga ke tingkat pra-perang diperkirakan tetap membutuhkan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Hal ini sangat bergantung pada skala kerusakan infrastruktur energi dan tingkat keamanan jalur pelayaran.

"Jika melihat kerusakan fisik akibat serangan Iran, sejauh ini kami belum melihat kerusakan yang bisa dianggap bersifat struktural, meskipun risikonya tetap ada selama perang masih berlangsung," kata analis energi Natixis CIB, Joel Hancock.

Salah satu faktor penentu utama adalah keamanan Selat Hormuz, yang merupakan arteri vital bagi pengiriman energi global. Pemerintah AS telah menawarkan pengawalan angkatan laut bagi kapal tanker minyak yang melintas di kawasan tersebut, serta menjanjikan dukungan asuransi bagi kapal yang beroperasi di wilayah itu. Namun, jaminan keamanan di jalur laut tersebut masih jauh dari pasti. Sumber militer dan intelijen menyebut Iran memiliki kapabilitas untuk melanjutkan serangan drone terhadap kapal selama berbulan-bulan.

Konflik ini juga berpotensi mendorong negara-negara untuk kembali meningkatkan cadangan minyak strategis mereka setelah perang berakhir. Kekhawatiran terhadap minimnya stok energi dapat memicu peningkatan permintaan minyak global, yang pada akhirnya akan menopang harga.

Dampak Ekonomi Global yang Meluas

Gangguan distribusi energi mulai terasa di berbagai negara, khususnya di Asia yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Sekitar 60% kebutuhan minyak mentah Asia berasal dari kawasan tersebut.

Di India, perusahaan milik negara Mangalore Refinery and Petrochemicals (MRPL) menyatakan force majeure terhadap pengiriman ekspor bensin, akibat keterbatasan pasokan minyak mentah. Langkah ini diikuti oleh sejumlah kilang lain di kawasan yang juga tidak mampu memenuhi kontrak penjualan karena terganggunya pasokan.

Di Tiongkok, setidaknya dua kilang minyak dilaporkan mengurangi kapasitas produksi. Pemerintah Tiongkok bahkan meminta kilang-kilang untuk menghentikan ekspor bahan bakar. Thailand juga menangguhkan ekspor bahan bakar, sementara Vietnam menghentikan pengiriman minyak mentah.

Di sisi lain, kondisi ini justru memberikan keuntungan tak terduga bagi Rusia. Harga minyak Rusia meningkat karena Amerika Serikat memberikan keringanan selama 30 hari bagi kilang India untuk membeli minyak Rusia sebagai pengganti pasokan dari Timur Tengah. Sebelumnya, Washington menekan India untuk mengurangi impor minyak Rusia dengan ancaman tarif.

Dampak konflik juga terasa di pasar energi Asia Timur. Di Jepang, importir LNG terbesar kedua di dunia, harga kontrak listrik dasar untuk Tokyo pada tahun fiskal yang dimulai April melonjak lebih dari sepertiga sepanjang pekan ini di bursa EEX, akibat kekhawatiran kenaikan harga bahan bakar. Di Korea Selatan, antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar, mencerminkan kekhawatiran para pengemudi akan kenaikan harga bensin yang segera terjadi.

Sementara itu, bagi konsumen di Eropa, krisis ini menjadi pukulan ganda. Kawasan tersebut sebelumnya sudah menghadapi tekanan akibat terganggunya pasokan gas Rusia pasca-invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Sanksi terhadap energi Rusia memaksa Eropa beralih ke impor LNG. Kini, Eropa bahkan perlu mengamankan sekitar 180 kargo LNG tambahan dibandingkan tahun lalu untuk memastikan cadangan gas yang memadai menjelang musim dingin berikutnya.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar