haluannews.id – Pergerakan nilai tukar rupiah belakangan ini menjadi sorotan utama, memicu perdebatan luas di kalangan masyarakat setelah sempat menyentuh level Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana nasib mata uang Garuda ke depan?

haluannews.id -  Pergerakan nilai tukar rupiah belakangan ini menjadi sorotan utama, memicu perdebatan luas di kalangan masyarakat setelah sempat menyentuh level Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana nasib mata uang Garuda ke depan?

Seorang ekonom senior, Raden Pardede, memberikan pandangannya mengenai faktor-faktor krusial yang menentukan kuat atau lemahnya rupiah. Menurutnya, stabilitas rupiah sangat bergantung pada kondisi cadangan devisa negara serta neraca pembayaran (balance of payment/BOP) Indonesia. "Jika kita ingin memahami fluktuasi rupiah, ketersediaan cadangan devisa dan kesehatan neraca pembayaran adalah indikator utamanya," ungkap Raden dalam sebuah acara diskusi yang disiarkan oleh haluannews.id belum lama ini.

COLLABMEDIANET

Raden menjelaskan, apabila neraca pembayaran tetap positif, maka cadangan devisa nasional akan menguat. Kondisi ini memberikan amunisi yang cukup bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas rupiah dari tekanan eksternal, seperti lonjakan permintaan dolar AS.

haluannews.id -  Pergerakan nilai tukar rupiah belakangan ini menjadi sorotan utama, memicu perdebatan luas di kalangan masyarakat setelah sempat menyentuh level Rp18.000 terhadap dolar Amerika Serikat. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana nasib mata uang Garuda ke depan?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dalam struktur neraca pembayaran, terdapat dua komponen utama: transaksi berjalan (current account) dan neraca modal (capital account). Transaksi berjalan sendiri mencakup neraca perdagangan dan neraca jasa. "Saat ini, neraca perdagangan kita masih surplus, namun trennya menurun akibat peningkatan impor, terutama karena kenaikan harga minyak global. Sementara itu, neraca jasa selalu mencatat defisit," terang Raden. Kombinasi kedua faktor ini mengakibatkan transaksi berjalan Indonesia kini berada dalam posisi negatif.

Lebih lanjut, Raden menyoroti kondisi neraca modal atau finansial. Meskipun sempat positif, kini mulai tergerus. "Akun finansial kita, yang terdiri dari investasi langsung asing (FDI) dan portofolio, kini menghadapi tantangan. Khususnya pada komponen portofolio, telah terjadi arus keluar modal yang cukup signifikan," paparnya.

Akibatnya, jika transaksi berjalan dan neraca modal digabungkan, neraca pembayaran Indonesia secara keseluruhan kini menunjukkan defisit. Data triwulan I 2026 mencatat defisit NPI sebesar 9,1 miliar dolar AS, dengan transaksi berjalan defisit 4,0 miliar dolar AS (sekitar 1,1% dari PDB) dan transaksi modal serta finansial defisit 4,9 miliar dolar AS.

"Penurunan cadangan devisa menjadi bukti nyata dari kondisi ini. Dari sekitar US$154,6 miliar di awal 2026, kini telah menyusut menjadi US$144,9 miliar pada Mei 2026. Ini mengindikasikan bahwa Bank Indonesia telah berupaya keras, namun arus keluar modal (capital outflow) tetap menekan," jelasnya.

Selain faktor-faktor di atas, defisit anggaran pemerintah juga turut mempengaruhi kekuatan rupiah. Defisit yang besar dapat memicu kekhawatiran investor dan mempengaruhi aliran dana. Tak hanya itu, dinamika politik, baik di tingkat global maupun domestik, juga memiliki peran signifikan dalam pergerakan nilai tukar mata uang.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar