Guncangan Global Hantam IHSG: Pesta Pora Berakhir Tragis!

Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi signifikan pada Kamis (9/4/2026) pagi, ambruk lebih dari 1% setelah kemarin sempat berpesta pora. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini tergelincir 1,2% ke level 7.191,58, kehilangan 88 poin, memadamkan euforia kenaikan tajam lebih dari 4% pada sesi sebelumnya.

COLLABMEDIANET

Dalam sepuluh menit pertama perdagangan, volatilitas pasar terlihat jelas. Sebanyak 319 saham terpantau melemah, berbanding 208 saham yang menguat, dan 188 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 2,34 triliun, melibatkan perputaran 4,54 miliar saham dalam 322.193 kali transaksi. Kapitalisasi pasar juga ikut terkoreksi menjadi Rp 12.684 triliun.

Guncangan Global Hantam IHSG: Pesta Pora Berakhir Tragis!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Saham-saham dengan nilai transaksi terbesar yang menjadi perhatian investor pagi ini meliputi BUMI, BBCA, BBRI, BMRI, dan DEWA. Meskipun pasar keuangan domestik sempat diharapkan melanjutkan tren penguatan, bayang-bayang sentimen negatif global tampaknya lebih dominan.

Salah satu pemicu utama koreksi ini adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas. Pasar saham Asia-Pasifik dibuka bervariasi pada hari yang sama, mencerminkan kekhawatiran atas perkembangan konflik yang tidak sesuai harapan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengumumkan gencatan senjata "dua arah" selama dua pekan sebagai upaya membuka ruang negosiasi. Bahkan, Trump menyebut telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai layak. Namun, kesepakatan ini bergantung pada kesediaan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital energi global. Teheran sendiri menyatakan akan menghentikan operasi defensif jika serangan terhadap wilayahnya dihentikan sepenuhnya, dan Israel dilaporkan menyetujui gencatan senjata tersebut. Ironisnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, kemudian menuduh AS melanggar kesepakatan, menyoroti penolakan hak Iran memperkaya uranium, serangan Israel di Lebanon, dan masuknya drone ke wilayah udara Iran.

Dampak ketidakpastian ini langsung terasa di pasar regional. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 0,6%, sementara Kosdaq stagnan. Di Jepang, Nikkei 225 dan Topix hanya menguat tipis masing-masing 0,12% dan 0,26%, sedangkan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,24%. Lebih lanjut, harga minyak dunia melonjak signifikan, dengan kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei naik 2,3% menjadi US$96,63 per barel, dan Brent kontrak Juni naik 1,87% ke US$96,50 per barel. Kenaikan ini mengindikasikan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat eskalasi geopolitik.

Di sisi lain, pasar berjangka AS menunjukkan pelemahan, dengan kontrak S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,1%, serta Dow Jones Industrial Average melemah 32 poin. Ini kontras dengan lonjakan tajam Wall Street pada perdagangan sebelumnya, di mana indeks Dow Jones melesat 2,85% (1.325,46 poin) ke 47.909,92 – kenaikan harian terbaik sejak April 2025. S&P 500 juga naik 2,51% dan Nasdaq Composite melonjak 2,80%. Kenaikan tersebut dipicu oleh optimisme awal meredanya konflik lima pekan yang sempat mengancam jalur pasokan energi global.

Selain isu geopolitik, sentimen lain yang turut menekan pasar adalah arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret mengungkapkan bahwa sejumlah pejabat The Fed mulai mempertimbangkan peluang kenaikan suku bunga. Hal ini menyusul inflasi yang tetap berada di atas target 2%, terutama didorong oleh lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.

The Fed kini mengadopsi pendekatan "dua arah", mengisyaratkan bahwa suku bunga bisa naik atau turun tergantung pada dinamika inflasi. Meskipun sebelumnya cenderung ke pemangkasan sejak 2024, jumlah pejabat yang mempertimbangkan kenaikan kini bertambah signifikan dibanding Januari. Mayoritas peserta rapat menilai risiko inflasi meningkat, khususnya jika harga energi terus tinggi dan mendorong inflasi inti. Ekspektasi inflasi jangka panjang juga berisiko naik, menambah tekanan pada bank sentral untuk bertindak.

Kombinasi ketidakpastian geopolitik global dan potensi pengetatan kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia menciptakan lingkungan yang menantang bagi pasar modal, termasuk IHSG, pada perdagangan hari ini.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar