Haluannews Ekonomi – Investor di kawasan Asia-Pasifik memulai perdagangan Rabu (13/5/2026) dengan sentimen negatif yang kuat, menyebabkan mayoritas bursa saham utama terperosok ke zona merah. Kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi di Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi, ditambah dengan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara AS dan Iran, menjadi pemicu utama tekanan jual. Potensi kenaikan harga minyak dunia juga turut memperkeruh suasana pasar.

Related Post
Fokus utama pelaku pasar tertuju pada dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan menyatakan bahwa gencatan senjata yang telah berlangsung selama sebulan antara kedua negara berada dalam kondisi "sangat rapuh" dan "bergantung pada dukungan besar". Pernyataan ini muncul setelah Washington menolak proposal balasan dari Teheran terkait upaya penghentian konflik. Situasi semakin memanas dengan komentar Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang menegaskan bahwa Presiden Trump tidak memerlukan persetujuan Kongres untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran, terutama setelah administrasi AS melewati batas 60 hari yang diatur dalam undang-undang kekuatan perang federal untuk memperoleh otorisasi penggunaan kekuatan militer.

Di ranah ekonomi makro, prospek inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi momok bagi investor global. Data inflasi yang berpotensi menekan daya beli dan memicu pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve menjadi perhatian serius. Selain itu, pasar juga menantikan perkembangan terkait rencana pertemuan antara Presiden Trump dengan Presiden China Xi Jinping, yang diharapkan akan membahas isu-isu perdagangan krusial yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Dampak dari sentimen negatif ini terasa merata di seluruh bursa utama Asia. Indeks Kospi Korea Selatan mencatat penurunan signifikan sebesar 2,15%, sementara indeks saham lapis kecil Kosdaq juga terkoreksi 0,74%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,52%, meskipun indeks Topix mampu mencatatkan kenaikan tipis 0,28%. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia juga tak luput dari tekanan, turun 0,56%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan sinyal pelemahan, berada di level 26.264, lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir indeks di 26.347,91.
Meski kekhawatiran geopolitik berpotensi memicu kenaikan, harga minyak dunia justru bergerak melemah pada perdagangan ini. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun 0,51% menjadi US$101,66 per barel, dan Brent kontrak Juli terkoreksi 0,57% ke level US$107,16 per barel. Di sisi lain Atlantik, pergerakan pasar saham AS cenderung datar. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 menunjukkan pergerakan minimal, sementara futures Dow Jones Industrial Average naik tipis sekitar 8 poin. Pada perdagangan sebelumnya, Wall Street ditutup bervariasi; Indeks S&P 500 turun 0,16% dan Nasdaq Composite melemah 0,71% setelah sempat mencetak rekor tertinggi baru, namun Dow Jones Industrial Average berhasil menguat 56,09 poin atau 0,11%.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar