Rupiah Tembus Rp 17.500! Ekonom Bongkar Ancaman Nyata Ekonomi RI

Rupiah Tembus Rp 17.500! Ekonom Bongkar Ancaman Nyata Ekonomi RI

Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Indonesia saat ini tengah menghadapi tekanan hebat, yang tercermin dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level 6.700 dan nilai tukar Rupiah yang menembus angka Rp 17.500 per Dolar AS. Kondisi ini dipicu oleh berbagai sentimen, baik dari ranah global maupun domestik, yang berpotensi mengancam stabilitas ekonomi nasional hingga akhir tahun 2026.

COLLABMEDIANET

Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Ajib Hamdani, secara tegas menyatakan bahwa kekuatan Rupiah terhadap Dolar AS berada dalam kondisi yang "tidak baik-baik saja." Ia menyoroti dampak signifikan dari sentimen eksternal, termasuk rebalancing MSCI, ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemukan titik akhir, serta tertundanya pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed). Faktor-faktor global ini secara kolektif menciptakan ketidakpastian yang membebani pasar.

Rupiah Tembus Rp 17.500! Ekonom Bongkar Ancaman Nyata Ekonomi RI
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi internal, perekonomian Indonesia juga dibayangi oleh tekanan fiskal. Dorongan agresif pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di awal tahun justru menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Mereka mempertanyakan kapasitas fiskal negara untuk menopang pertumbuhan tersebut secara berkelanjutan hingga akhir tahun, sembari tetap menjaga agar rasio utang tetap terkendali.

Menanggapi dinamika ini, Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengakui capaian pertumbuhan ekonomi RI di kuartal pertama 2026 sebesar 5,61% sebagai indikator yang positif. Namun, ia menekankan bahwa tantangan sesungguhnya terletak pada kemampuan pemerintah untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ini di tengah gejolak global yang kian intens.

Yusuf memperingatkan bahwa prospek ekonomi ke depan akan sangat menantang, terutama jika konflik antara Iran dan AS berpotensi berlanjut hingga akhir tahun 2026. Skenario ini, menurutnya, berisiko besar untuk semakin menekan nilai tukar Rupiah dan meningkatkan tekanan pada kondisi fiskal negara secara keseluruhan.

Untuk menghadapi ancaman ini, diharapkan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dapat terus bersikap agresif dalam menahan laju pelemahan Rupiah. Selain itu, upaya serius untuk menarik kembali investasi asing ke dalam negeri juga menjadi krusial guna memperkuat fundamental ekonomi dan menjaga kepercayaan pasar.

Pembahasan lebih lanjut mengenai dinamika ekonomi ini dapat disimak dalam dialog Shafinaz Nachiar dengan Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Ajib Hamdani, dan Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, dalam program Closing Bell Haluannews.id, pada Rabu, 13 Mei 2026.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar