Haluannews Ekonomi – Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan tajam publik, terutama setelah mata uang Garuda terus menjauh dari asumsi pemerintah untuk target 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS. Pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, data Refinitiv mencatat rupiah ditutup melemah di posisi Rp17.460 per dolar AS. Situasi ini secara langsung membangkitkan memori kelam krisis ekonomi 1998, di mana dolar AS sempat menyentuh angka Rp16.800. Kala itu, tekanan yang terjadi jauh lebih berat, dengan lonjakan kurs yang sangat cepat dan kemudian memicu gejolak politik nasional yang berujung pada berakhirnya lebih dari tiga dekade pemerintahan Presiden Soeharto.

Related Post
Ketika tampuk kepemimpinan beralih ke B. J. Habibie, pasar awalnya meragukan kemampuan pemerintah baru untuk memulihkan ekonomi. Habibie, yang bukan seorang ekonom melainkan teknokrat pembuat pesawat, dianggap kritikus Orde Baru sebagai sosok yang boros. Bahkan, Perdana Menteri Singapura kala itu, Lee Kuan Yew, sempat pesimis bahwa naiknya Habibie akan membuat rupiah semakin tak berdaya. Namun, sejarah membuktikan sebaliknya. Dengan tiga jurus strategisnya, Habibie berhasil menaklukkan dominasi dolar AS dan mengembalikan kepercayaan pasar.

1. Restrukturisasi Perbankan yang Berani dan Fundamental
Salah satu akar masalah krisis 1998 adalah rapuhnya sektor perbankan. Kebijakan Paket Oktober 1988 (Pakto 88) yang memudahkan pendirian bank tanpa diimbangi pengawasan ketat, membuat banyak bank kolaps saat krisis. Nasabah panik dan melakukan penarikan dana besar-besaran. Habibie menjadikan ini prioritas utama. Ia mencabut Pakto 88 dan melakukan restrukturisasi besar-besaran. Empat bank milik pemerintah digabungkan menjadi satu entitas kuat, Bank Mandiri. Lebih fundamental lagi, Habibie memisahkan Bank Indonesia (BI) dari campur tangan pemerintah melalui Undang-Undang No. 23 Tahun 1999. Dalam otobiografinya, "Detik-detik yang Menentukan" (2006), Habibie menegaskan bahwa langkah ini krusial untuk menjadikan BI independen, objektif, dan bebas dari intervensi politik, demi menguatkan rupiah.
2. Kebijakan Moneter Ketat dan Terukur
Untuk mengatasi krisis kepercayaan dan inflasi yang merajalela, Habibie menerapkan kebijakan moneter ketat. Ia menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tingkat bunga tinggi. Tujuan utamanya adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Dengan bunga SBI yang menarik, masyarakat didorong untuk kembali menabung, yang pada gilirannya akan mengurangi peredaran uang di masyarakat dan menstabilkan harga. Strategi ini terbukti sukses. Habibie mengklaim, berkat SBI, suku bunga yang sempat mencapai 60% berhasil ditekan hingga belasan persen, dan kepercayaan terhadap sektor perbankan pun kembali meningkat.
3. Pengendalian Harga Bahan Pokok demi Stabilitas Sosial
Habibie menyadari bahwa stabilitas harga kebutuhan pokok adalah kunci untuk menjaga ketenangan masyarakat di tengah krisis. Oleh karena itu, ia mempertahankan harga listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi agar tidak melonjak. Langkah ini memastikan harga bahan pokok tetap terjangkau. Meski demikian, kebijakan ini juga diwarnai kontroversi, terutama ketika Habibie mengeluarkan pernyataan yang dianggap "nyeleneh" dengan menganjurkan rakyat berpuasa Senin-Kamis agar lebih hemat. Seperti yang ditulis A. Makmur Makka dalam "Inspirasi Habibie" (2020), anjuran ini adalah bagian dari upaya Habibie untuk mendorong penghematan di masa sulit dan menumbuhkan solidaritas.
Pada akhirnya, kombinasi dari ketiga strategi tersebut berhasil memulihkan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia. Aliran dana investor kembali masuk, dan yang terpenting, nilai tukar dolar AS berhasil dikendalikan dan menguat kembali ke level Rp6.550. Sebuah warisan ekonomi yang patut dikenang dari seorang teknokrat yang membuktikan diri sebagai pemimpin krisis yang efektif, mengubah keraguan menjadi keberhasilan nyata.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar