Haluannews Ekonomi – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti fenomena unik di kalangan generasi Z (Gen Z) terkait preferensi investasi. Generasi muda ini cenderung lebih memilih aset berisiko tinggi seperti kripto, bahkan ketika belum memiliki pekerjaan yang stabil.

Related Post
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengungkapkan bahwa selera risiko (risk appetite) Gen Z berbeda signifikan dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tidak ragu berinvestasi pada aset kripto, meskipun pemahaman mereka terhadap risiko tersebut belum tentu mendalam.

"Mungkin prioritasnya sudah berubah. Ini pemahaman yang memang menarik," ujar Mahendra dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (21/1/2026). Ia menambahkan, pendekatan literasi keuangan konvensional mungkin tidak efektif bagi Gen Z karena cara pandang mereka terhadap investasi berbeda.
Generasi sebelum Gen Z umumnya memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok, kemudian tabungan, investasi berisiko rendah, dan baru kemudian aset berisiko tinggi seperti saham dan kripto. Namun, survei menunjukkan bahwa banyak Gen Z yang belum memiliki pekerjaan stabil justru sudah berinvestasi di kripto.
Mahendra mengakui bahwa fenomena ini menjadi tantangan tersendiri. OJK perlu mengembangkan format dan pendekatan literasi keuangan yang berbeda untuk menjangkau Gen Z.
Sementara itu, OJK juga menyoroti potensi besar sektor inovasi teknologi dan digital di sektor keuangan. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) OJK, Hasan Fauzi, memperkirakan nilai pasar global di industri ini akan mencapai US$ 8.567,4 miliar pada tahun 2033, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 26,3%.
Indonesia memiliki keunggulan demografi yang mendukung perkembangan fintech, dengan penetrasi internet dan smartphone yang tinggi. Selain itu, fintech syariah juga sangat diminati di Indonesia.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar