Gejolak Global Hantam RI: IHSG Anjlok, Rupiah Terkapar!

Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia kembali dihadapkan pada tekanan berat pada Jumat (24/04/2026), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan signifikan. Pada pukul 10:04 WIB, IHSG tercatat anjlok 1,51% ke level 7.267, menyeret mayoritas saham ke zona merah. Kondisi ini diperparah dengan mata uang Rupiah yang turut terkapar, menembus level Rp 17.285 per Dolar AS, memicu kekhawatiran di kalangan investor dan pelaku pasar.

COLLABMEDIANET

Pelemahan tajam ini disinyalir kuat merupakan respons pasar terhadap sentimen geopolitik global yang memanas, khususnya ancaman yang dilontarkan oleh Donald Trump terkait Selat Hormuz. Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran vital bagi sebagian besar pasokan minyak dunia, menjadi titik krusial yang dapat memicu gejolak harga komoditas global dan mengganggu stabilitas ekonomi. Eskalasi ketegangan di wilayah tersebut secara langsung memicu aksi jual di pasar saham dan mendorong investor mencari aset "safe haven" seperti Dolar AS, yang pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang seperti Rupiah.

Gejolak Global Hantam RI: IHSG Anjlok, Rupiah Terkapar!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Anjloknya IHSG hingga lebih dari satu setengah persen menunjukkan betapa rentannya pasar domestik terhadap dinamika eksternal. Investor cenderung menarik modalnya dari pasar berisiko tinggi di tengah ketidakpastian, mengakibatkan arus modal keluar yang masif. Sektor-sektor yang sensitif terhadap sentimen global, seperti perbankan, energi, dan industri dasar, diperkirakan menjadi yang paling terpukul dalam situasi ini. Analis pasar dari Haluannews.id, Serliana Salsabila, dalam program Profit, menyoroti bahwa tekanan jual diperkirakan akan terus berlanjut jika ketegangan geopolitik tidak mereda.

Di sisi lain, depresiasi Rupiah hingga menyentuh Rp 17.285 per Dolar AS adalah alarm keras bagi perekonomian nasional. Level ini bukan hanya sekadar angka, melainkan cerminan dari kekhawatiran investor terhadap fundamental ekonomi di tengah ketidakpastian global. Pelemahan Rupiah akan berdampak langsung pada biaya impor yang lebih mahal, berpotensi memicu inflasi, dan meningkatkan beban utang luar negeri dalam mata uang asing. Bank Indonesia kemungkinan akan dihadapkan pada dilema sulit dalam menjaga stabilitas nilai tukar tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Para pelaku pasar dan investor kini menanti perkembangan lebih lanjut dari situasi geopolitik global, sembari mencermati langkah-langkah kebijakan yang akan diambil oleh otoritas moneter dan fiskal untuk meredam dampak negatif terhadap pasar modal dan stabilitas ekonomi Indonesia. Volatilitas tinggi diperkirakan akan menjadi karakteristik utama pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar