Haluannews Ekonomi – Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global yang terus bergejolak, sektor insurance technology (insurtech) justru menunjukkan geliat yang menjanjikan. Platform insurtech telah merevolusi cara masyarakat mengakses proteksi, menawarkan kemudahan pembelian polis, hingga proses klaim yang cepat, efisien, dan aman melalui aplikasi atau platform web. Fenomena ini menjadi sorotan, terutama saat gejolak global menekan pertumbuhan ekonomi dan daya beli konsumen.

Related Post
Menurut Co-Founder Bang Jamin, Andri Lau, inovasi teknologi yang dibawa insurtech berperan krusial dalam membantu masyarakat menjangkau layanan asuransi dengan lebih mudah. Di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif dan tekanan geopolitik yang berpotensi memicu ‘perang’ ekonomi, aksesibilitas menjadi kunci. Insurtech hadir sebagai solusi, menjembatani kesenjangan antara kebutuhan proteksi dan kemampuan masyarakat untuk mendapatkannya, bahkan ketika daya beli sedang tertekan.

Peluang bagi industri asuransi, termasuk insurtech, semakin terbuka lebar seiring dengan target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan mencapai 5% pada tahun 2025. Momentum ini diharapkan dapat memacu penjualan polis asuransi, termasuk produk embedded insurance yang semakin populer karena terintegrasi langsung dengan pembelian produk atau layanan lain. Lantas, bagaimana strategi insurtech untuk mengoptimalkan peluang pertumbuhan di tengah bayang-bayang gejolak global yang diperkirakan masih berlanjut hingga tahun 2026?
Diskusi mendalam mengenai potensi dan tantangan insurtech ini terungkap dalam dialog Syarifah Rahma dengan Andri Lau di program Power Lunch, Haluannews.id, pada Rabu (22/04/2026). Peran insurtech sebagai katalisator akses asuransi di era ketidakpastian ekonomi global tampaknya akan semakin vital.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar