Haluannews Ekonomi – Pasar modal Indonesia dilanda gejolak signifikan pada Kamis (21/5/2026), saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk 3,54%. Tekanan jual masif menyeret indeks kembali ke level psikologis 6.000-an, mengakhiri perdagangan di 6.094,94 poin. Penurunan tajam ini menghapus 223,56 poin dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di 6.318,50.

Related Post
Pergerakan IHSG hari itu diwarnai volatilitas tinggi. Sempat mencoba bertahan di zona hijau pada awal sesi, bahkan menyentuh level tertinggi harian 6.378,81, namun sentimen negatif tak terbendung. Indeks kemudian terus tertekan hingga mencapai titik terendah 6.080,95 sebelum sedikit rebound menjelang penutupan.

Nilai transaksi di lantai bursa mencatat angka fantastis, mencapai Rp18,03 triliun. Volume perdagangan juga sangat tinggi dengan 33,45 miliar saham berpindah tangan dalam 2,11 juta kali transaksi. Angka ini mengindikasikan aktivitas jual-beli yang intens, didominasi oleh aksi lepas saham.
Koreksi pasar terasa merata di seluruh papan perdagangan. Sebanyak 700 saham ditutup melemah, berbanding jauh dengan hanya 91 saham yang menguat, dan 168 saham stagnan. Imbasnya, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut tergerus, menyusut menjadi Rp10.553 triliun seiring anjloknya mayoritas saham berkapitalisasi besar.
Seluruh sektor industri tak luput dari tekanan. Sektor utilitas menjadi yang paling terpukul dengan koreksi 7,80%, disusul sektor energi yang ambles 6,87%, dan bahan baku 6,09%.
Di tengah badai merah, beberapa saham masih mampu menjadi penopang, meski kontribusinya tak sebanding dengan tekanan yang ada. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyumbang 2,13 poin, diikuti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) 1,42 poin, PT Sumber Alfaria Tbk (AMRT) 1,34 poin, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) 1,26 poin.
Namun, deretan saham berkapitalisasi jumbo menjadi biang keladi utama pelemahan. PT Astra International Tbk (ASII) membebani indeks hingga 14,96 poin, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 14,26 poin, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) 11,52 poin, serta PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) 11,21 poin. Saham-saham lain seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (MDKA) juga turut menekan.
Kontras dengan kondisi domestik, mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik justru bergerak positif. Indeks Kospi Korea Selatan melesat 8,42%, Nikkei Jepang terbang 3,14%, dan bursa Taiwan menguat 3,37%. Penguatan serupa terlihat di ASX 200 Australia (+1,47%), NZX 50 Selandia Baru (+0,92%), serta indeks SET Thailand (+0,45%). Namun, beberapa pasar regional seperti Hang Seng Hong Kong (-1,03%), Shanghai Composite (-2,04%), Shenzhen (-2,07%), dan bursa Malaysia (-0,54%) juga terpantau melemah.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa pemicu pelemahan IHSG kali ini berbeda dari sebelumnya yang kerap dikaitkan dengan rebalancing MSCI. Menurutnya, dinamika pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh perkembangan informasi terbaru terkait kebijakan global maupun domestik. "Berbagai perkembangan informasi terakhir terkait dengan kebijakan global maupun dalam negeri juga turut berdampak secara langsung maupun tidak langsung yang mempengaruhi proyeksi atau persepsi kinerja emiten-emiten yang tercatat di bursa pada kesempatan pendek, menengah, dan jangka panjang," ujar Hasan.
Hasan secara spesifik menyoroti respons investor terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang baru diumumkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Salah satu kebijakan krusial adalah sentralisasi penjualan seluruh hasil sumber daya alam Indonesia, mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, hingga besi fero alloy, yang wajib dilakukan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan ini bertujuan memberantas praktik kurang bayar, transfer pricing, serta memastikan penyerapan Devisa Hasil Ekspor (DHE) secara optimal di sistem keuangan domestik. "Saya kira pasti ya, artinya itu pasti direspons secara jangka pendek," tegas Hasan di gedung DPR RI Jakarta, Kamis (21/5/2026), mengindikasikan bahwa pasar bereaksi cepat terhadap perubahan regulasi.
Di sisi lain, Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengajak investor untuk melihat lebih jauh. Ia menekankan pentingnya semangat berinvestasi jangka panjang di pasar modal. "Kemarin waktu ada kunjungan dari DPR dan Danantara ke sini kan, juga sudah disampaikan pesan bahwa investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang," kata Jeffrey di Gedung BEI, Kamis (21/5/2026).
Jeffrey optimistis terhadap fundamental ekonomi Indonesia ke depan. Ia juga menyoroti komitmen Presiden Prabowo untuk menyederhanakan perizinan usaha, dari yang semula memakan waktu dua tahun menjadi hanya hitungan minggu. "Tentu itu akan memberikan efek positif kepada perekonomian dan nanti tentunya implikasinya kepada pasar modal dalam waktu jangka menengah panjang kita. Jadi kami sih positif," pungkas Jeffrey, memberikan pandangan positif untuk prospek pasar modal.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar