Haluannews Ekonomi – Mata uang Garuda kembali tak berdaya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Rupiah ditutup di level Rp17.090/US$, mencatatkan depresiasi 0,35% dan sekaligus menorehkan rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah.

Related Post
Tekanan terhadap rupiah telah terasa sejak pembukaan pasar, di mana mata uang domestik ini memulai hari dengan pelemahan tipis 0,06% di Rp17.040/US$. Sepanjang sesi, depresiasi terus berlanjut, bahkan sempat menyentuh level krusial Rp17.105/US$ sebelum sedikit membaik menjelang penutupan. Sementara itu, pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,06% ke posisi 100,039, menunjukkan dominasi greenback di pasar global.

Pergerakan rupiah hari ini tak lepas dari sentimen eksternal yang didominasi oleh kekhawatiran geopolitik. Dolar AS masih kokoh di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang terus mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya terkait Iran. Perhatian utama tertuju pada tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Meskipun ada laporan mengenai upaya gencatan senjata, ketidakpastian global masih membayangi pasar. Situasi ini memicu sentimen "risk-off", mendorong kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, dan mengubah ekspektasi arah kebijakan suku bunga global. Akibatnya, dolar AS kembali diburu sebagai aset lindung nilai (safe haven), membatasi ruang gerak penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari ranah domestik, sentimen negatif datang dari perkembangan kebijakan fiskal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan rencana pemerintah untuk menaikkan target defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini. Proyeksi defisit direvisi dari 2,68% menjadi 2,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan perhitungan ulang (exercise) terhadap proyeksi defisit APBN 2026, yang hasilnya akan dimuat dalam laporan semester dan disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Meskipun demikian, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit agar tidak melampaui batas psikologis 3% terhadap PDB, demi menjaga disiplin fiskal dan kepercayaan investor.
Kombinasi tekanan eksternal dari penguatan dolar AS sebagai safe haven dan sentimen domestik terkait revisi target defisit APBN menjadi faktor utama yang mendorong rupiah kembali terperosok ke rekor terendah baru. Pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan fiskal pemerintah ke depan.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar