haluannews.id – Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Jumat 24 Juli 2026. Indeks acuan ini langsung terperosok lebih dari satu persen, memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Related Post
Pada pukul 09.10 WIB, IHSG tercatat di level 6.235,81, kehilangan 79,50 poin atau setara 1,26 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Pelemahan signifikan ini terutama dipicu oleh gempuran penjualan masif pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps, khususnya di sektor perbankan.

Situasi pasar domestik diperparah oleh sejumlah sentimen negatif dari kancah global. Kebijakan tarif impor baru yang secara resmi diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menargetkan 10 hingga 12,5 persen terhadap 60 negara mitra dagang termasuk Indonesia, menciptakan ketidakpastian ekonomi. Di saat yang sama, konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, mendorong harga minyak Brent melesat tajam 7 persen dan ditutup di atas US$100,69 per barel, menembus level psikologis US$100 untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir.
Meroketnya harga minyak memicu spekulasi tentang potensi lonjakan inflasi global, yang pada gilirannya dapat memaksa bank-bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan. Kombinasi tekanan geopolitik, kenaikan harga energi, serta aksi jual investor asing pada saham-saham perbankan membuat para pelaku pasar memilih bersikap ekstra hati-hati.
Data perdagangan menunjukkan 312 saham mengalami pelemahan, sementara hanya 115 saham yang berhasil menguat, dan 538 saham lainnya bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp678,8 miliar dengan volume perdagangan 1,29 miliar saham dalam 107,5 ribu kali transaksi.
Sektor keuangan menjadi penyumbang terbesar pelemahan IHSG, anjlok 1,44 persen, menjadikannya sektor dengan kinerja terburuk. Sektor lain seperti utilitas dan barang konsumsi non-primer juga ikut tertekan. Namun, beberapa sektor berhasil menunjukkan kekuatan, seperti properti yang melonjak 5,41 persen, disusul energi dan industri.
Beberapa saham blue chip perbankan menjadi biang kerok utama di balik anjloknya indeks. PT Bank Mandiri Persero Tbk BMRI menyumbang pelemahan terbesar, diikuti oleh PT DCI Indonesia Tbk DCII, PT Bank Central Asia Tbk BBCA, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk AMMN. Saham-saham besar lainnya seperti PT Telkom Indonesia Persero Tbk TLKM, PT Barito Renewables Energy Tbk BREN, PT Barito Pacific Tbk BRPT, PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk BBNI, PT Bumi Resources Minerals Tbk BRMS, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk DSSA juga turut menekan indeks secara signifikan.
Tekanan jual pada saham-saham perbankan sebenarnya sudah terlihat sejak perdagangan hari sebelumnya, Kamis 23 Juli. Saat itu, investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp920,3 miliar di pasar reguler, terkonsentrasi pada bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Hal ini mengindikasikan bahwa kekhawatiran pasar terhadap sektor ini masih berlanjut hingga pembukaan perdagangan hari ini.










Tinggalkan komentar