Gawat! Dolar AS Nyaris Sentuh Rp17 Ribu, Rupiah Terkapar

Gawat! Dolar AS Nyaris Sentuh Rp17 Ribu, Rupiah Terkapar

Haluannews Ekonomi – Membuka perdagangan penutup pekan ini, Jumat (6/3/2026), nilai tukar rupiah terpantau melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan ini terjadi di tengah gejolak dinamika greenback di kancah pasar global, sebagaimana dilaporkan oleh Haluannews.id.

COLLABMEDIANET

Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, mata uang domestik kita, Rupiah, memulai sesi perdagangan dengan terdepresiasi 0,15%, menempatkannya pada level Rp16.900 per dolar AS. Kondisi ini kontras dengan penutupan perdagangan Kamis (5/3/2026) sebelumnya, di mana Rupiah sempat menunjukkan sedikit penguatan sebesar 0,03%, berakhir di posisi Rp16.875 per dolar AS.

Gawat! Dolar AS Nyaris Sentuh Rp17 Ribu, Rupiah Terkapar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, pada pukul 09.00 WIB tercatat melemah 0,35% ke level 98,965. Namun, perlu dicatat bahwa pada sesi perdagangan sebelumnya, DXY sempat menunjukkan kenaikan substansial 0,55%, mencapai 99,317.

Anjloknya kinerja Rupiah menjelang penutupan pekan ini tak lepas dari dominasi sentimen eksternal, khususnya fluktuasi pergerakan dolar AS di panggung pasar keuangan global.

Meskipun dolar AS sempat menunjukkan sedikit pelemahan di awal perdagangan Jumat pagi, mata uang Paman Sam ini tetap berada dalam tren penguatan mingguan terbesar dalam kurun waktu lebih dari setahun. Kenaikan ini utamanya didorong oleh lonjakan permintaan terhadap aset-aset safe haven di tengah memanasnya kembali konflik geopolitik di Timur Tengah.

Optimisme akan deeskalasi konflik yang sempat merebak kini kembali meredup seiring dengan peningkatan tensi di kawasan tersebut. Situasi ini mendorong para pelaku pasar untuk kembali bersikap konservatif, mengalihkan investasi mereka ke aset yang dianggap lebih aman, dan dolar AS menjadi pilihan utama.

Ancaman berlarut-larutnya konflik di Timur Tengah berpotensi memicu inflasi global tetap tinggi, yang pada gilirannya akan semakin mengokohkan posisi dolar AS. Implikasinya, harapan akan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, bank sentral AS, menjadi semakin tipis. Selain itu, sentimen risk-off yang masih mendominasi pasar juga turut menyokong penguatan dolar dalam jangka pendek, terutama selama premi risiko di sektor energi masih berada pada level yang tinggi.

Dominasi dolar AS di pasar global secara efektif membatasi potensi penguatan mata uang lainnya, termasuk Rupiah. Bahkan, kondisi ini justru membuka celah yang lebih lebar bagi depresiasi mata uang pasar berkembang, termasuk mata uang Garuda.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar