Haluannews Ekonomi – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) merevisi alokasi dana segar dari Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau rights issue senilai Rp 23,67 triliun. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi restrukturisasi untuk memperkuat operasional dan kinerja anak usahanya, Citilink.

Related Post
Perubahan rencana ini terungkap dalam keterbukaan informasi yang disampaikan Garuda Indonesia kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebelumnya, pada 9 Oktober 2025, total dana PMTHMETD direncanakan sebesar US$ 1.846.320.636, namun kemudian disesuaikan menjadi Rp 23,6 triliun.

Alokasi dana PMTHMETD menunjukkan pergeseran fokus. Sebanyak 36,78% atau setara Rp 8,7 triliun akan dialokasikan untuk modal kerja dan operasional, termasuk pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat. Angka ini meningkat dari rencana sebelumnya yang hanya 29%. Rinciannya, Rp 1,82 triliun berasal dari shareholder loan (SHL), dan Rp 6,88 triliun dari penambahan modal tunai untuk pesawat tertentu yang jatuh tempo pada 2025/2026.
Manajemen Garuda Indonesia menjelaskan bahwa perawatan dan perbaikan pesawat akan dilakukan oleh GMF AeroAsia dan/atau Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) lainnya berdasarkan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.
Sementara itu, porsi terbesar, yakni 63,22% atau setara Rp 14,96 triliun, akan digunakan untuk memperkuat permodalan Citilink melalui konversi pinjaman pemegang saham menjadi modal serta setoran modal tunai. Sebelumnya, alokasi untuk Citilink hanya 37%.
"Fokus restrukturisasi kepada Citilink adalah untuk menghindari dampak risiko strategis dan dampak sosial terhadap masyarakat," demikian pernyataan resmi Garuda Indonesia.
Peningkatan modal Citilink diperkirakan akan terealisasi pada Desember 2025. Rinciannya, Rp 11,23 triliun akan berasal dari konversi SHL (Rp 4,82 triliun) dan setoran modal tunai (Rp 6,4 triliun) untuk membiayai modal kerja dan operasional Citilink, termasuk biaya perawatan dan perbaikan pesawat.
Selain itu, Rp 3,73 triliun dari setoran modal tunai akan digunakan untuk melunasi seluruh utang pokok pembelian bahan bakar pesawat Citilink kepada Pertamina sebesar US$ 225 juta. Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban keuangan Citilink dan meningkatkan efisiensi operasionalnya.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar