Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan global dibanjiri optimisme seiring rencana The Fed yang diprediksi akan menurunkan suku bunga acuan pada September 2025. Prospek ini dinilai sebagai katalis positif bagi pasar modal Indonesia, demikian disampaikan Direktur Avrist Asset Management, Cholis Baidowi.

Related Post
Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan LQ45 masih menghadapi tekanan, penurunan yield obligasi dari 7% di awal tahun menjadi 6,3% saat ini mengindikasikan sentimen positif. Baidowi meyakini, pemangkasan suku bunga The Fed akan menciptakan momentum bagi Bank Indonesia untuk kembali menurunkan BI Rate hingga akhir tahun. Langkah ini, menurutnya, akan berdampak positif bagi sektor perbankan dan pasar modal secara keseluruhan.

Pertanyaan kunci yang muncul adalah bagaimana pasar merespon prospek penurunan suku bunga hingga akhir 2025 dan dampaknya terhadap pasar keuangan Indonesia? Untuk menjawabnya, Haluannews.id mewawancarai Cholis Baidowi dalam program Squawk Box pada Kamis, 11 September 2025. Wawancara tersebut mengungkap analisis mendalam mengenai dampak kebijakan moneter AS terhadap perekonomian Indonesia. Apakah IHSG dan Rupiah akan mengalami penguatan signifikan? Jawabannya mungkin terungkap dalam wawancara tersebut.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar