Dolar Menggila Rupiah Loyo The Fed Bikin Bingung

Dolar Menggila Rupiah Loyo The Fed Bikin Bingung

haluannews.id – Mata uang Garuda kembali tertekan. Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis 30 Juli 2026 dibuka melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meskipun bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terpantau terdepresiasi 0,03 persen, bergerak ke level Rp18.050 per dolar AS. Pelemahan ini menghentikan tren penguatan yang sempat dinikmati rupiah pada sesi perdagangan sebelumnya.

COLLABMEDIANET

Pada penutupan perdagangan Rabu 29 Juli 2026, rupiah sempat menunjukkan kekuatan dengan ditutup menguat 0,06 persen pada posisi Rp18.045 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp18.100 per dolar AS saat pembukaan. Namun, momentum positif tersebut gagal dipertahankan. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB pagi ini terlihat stabil di angka 100,880. Stabilitas ini terjadi setelah DXY mengalami penurunan signifikan 0,52 persen pada perdagangan sebelumnya, sebagai respons langsung terhadap keputusan The Fed.

Dolar Menggila Rupiah Loyo The Fed Bikin Bingung
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Keputusan The Fed untuk menjaga suku bunga acuannya tetap di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen sebetulnya sesuai dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar. Langkah ini sempat membuat dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang global, mengurangi spekulasi pasar akan pengetatan moneter dalam waktu dekat. Namun, menariknya, keputusan ini tidak diambil secara bulat. Tiga dari dua belas anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) justru menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini.

The Fed beralasan bahwa tingkat suku bunga yang berlaku saat ini sudah cukup tinggi untuk mengerem aktivitas ekonomi dan meredakan tekanan inflasi. Mereka juga memprediksi bahwa kenaikan harga akibat tarif impor akan mereda dengan sendirinya. Meskipun demikian, arah kebijakan The Fed ke depan kini menjadi lebih sulit diprediksi. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa bank sentral tidak akan lagi memberikan petunjuk atau forward guidance mengenai arah suku bunga.

"Saya memahami keinginan agar komite ini memberikan proyeksi dan komentar mengenai arah kebijakan. Namun bagi kami, yang terpenting adalah mengamati bagaimana pasar bereaksi terhadap perkembangan yang terjadi secara langsung tanpa filter," ujar Warsh, seperti dikutip dari haluannews.id internasional. Warsh memastikan The Fed siap bertindak jika diperlukan untuk mengembalikan inflasi menuju target dua persen. Menurutnya, setiap langkah FOMC memiliki dampak besar terhadap perekonomian, sehingga keputusan harus diambil berdasarkan data terbaru.

Dengan absennya forward guidance, perhatian pasar kini sepenuhnya beralih pada data inflasi dan pasar tenaga kerja AS. Data-data ekonomi inilah yang akan menjadi penentu utama untuk membaca peluang perubahan suku bunga pada pertemuan FOMC berikutnya, dan tentu saja, akan sangat memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar