Dolar Menggila Rp 18 Ribu Luhut Cs Beri Sinyal Bahaya

Dolar Menggila Rp 18 Ribu Luhut Cs Beri Sinyal Bahaya

haluannews.id – Dewan Ekonomi Nasional DEN baru-baru ini menyerahkan laporan krusial kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai dinamika ekonomi makro terkini. Dalam pertemuan penting tersebut, salah satu poin utama yang menjadi sorotan adalah potensi dampak serius dari pelemahan nilai tukar Rupiah yang telah menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat terhadap stabilitas harga di pasar domestik.

COLLABMEDIANET

Pertemuan yang berlangsung di Istana Merdeka ini dihadiri oleh sejumlah tokoh ekonomi terkemuka, termasuk Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan, serta anggota DEN lainnya seperti Chatib Basri, Hario Seto, dan Mochammad Firman Hidayat. Mereka secara kolektif menyoroti risiko lonjakan harga kebutuhan pokok yang bisa terjadi akibat depresiasi Rupiah. "Ini tentu akan berdampak langsung pada kelompok masyarakat menengah ke bawah," tegas Chatib Basri, menekankan urgensi masalah ini.

Dolar Menggila Rp 18 Ribu Luhut Cs Beri Sinyal Bahaya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Untuk meredam dampak tersebut, DEN menggarisbawahi pentingnya membangun kembali kepercayaan publik terhadap pemerintah. Salah satu strategi yang diusulkan adalah penerapan efisiensi anggaran secara ketat, termasuk dalam pelaksanaan program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah penghematan ini diharapkan dapat menciptakan ruang fiskal yang lebih sehat.

Meskipun demikian, Firman Hidayat memberikan pandangan yang lebih menenangkan mengenai fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, kondisi perekonomian saat ini jauh lebih kokoh dibandingkan dengan krisis 1998. Indikator makro menunjukkan performa yang kuat, inflasi terjaga stabil, dan neraca korporasi berada dalam posisi yang sehat. "Utang perusahaan dalam denominasi dolar saat ini jauh lebih rendah dibandingkan kondisi tahun 1998," jelas Firman, menambahkan bahwa arus kas perusahaan juga tetap tinggi, memberikan bantalan terhadap ketidakpastian global.

Sektor perbankan nasional juga menunjukkan ketahanan yang luar biasa, dengan rasio kecukupan modal (CAR) di atas 25 persen, menandakan sistem keuangan yang sangat kuat. Namun, Firman mengingatkan agar tetap waspada terhadap gejolak ekonomi global, terutama dampak berkepanjangan dari konflik geopolitik yang diperkirakan akan memicu kenaikan harga energi dunia. Pelemahan Rupiah, dikombinasikan dengan kenaikan harga energi, berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi secara signifikan.

"Indeks Harga Konsumen (inflasi) memang di kisaran 3 persen, namun Indeks Harga Perdagangan Besar sudah menyentuh 7 persen. Ini adalah sinyal yang perlu diantisipasi di semester kedua, meski pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi," papar Firman.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi, DEN merekomendasikan beberapa langkah konkret. Selain memperkuat kepercayaan publik dan menjelaskan secara transparan mengenai defisit fiskal, efisiensi anggaran, khususnya pada program MBG, dinilai dapat menghasilkan penghematan substansial.

Penguatan cadangan devisa negara juga menjadi prioritas. DEN melihat potensi besar untuk meningkatkan pendapatan sekunder, terutama dari remitansi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. "Jika dibandingkan dengan Filipina, jumlah remitansi kita masih lebih rendah. Program peningkatan kualitas pekerja migran seperti perawat dan teknisi yang dicanangkan Presiden dapat mendongkrak devisa," ujar Firman.

Selain itu, peningkatan sektor pariwisata juga dianggap vital. Dengan jumlah wisatawan mancanegara yang masih sekitar 15 juta, Indonesia tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Vietnam (20 juta), Thailand (30 juta), dan Malaysia (40 juta). Salah satu kebijakan tanpa anggaran yang disarankan adalah pemberian bebas visa kunjungan bagi negara-negara berpendapatan tinggi yang memiliki minat besar terhadap pariwisata Indonesia. Langkah-langkah ini diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan pemasukan devisa dan memperkokoh fondasi ekonomi nasional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar