haluannews.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan taringnya di hadapan dolar Amerika Serikat. Mengawali perdagangan akhir pekan pada Jumat 4 September 2026, rupiah melesat tajam, mencatatkan apresiasi signifikan hingga menembus level Rp17.610 per dolar AS. Performa impresif ini melanjutkan tren positif yang telah terlihat sejak Kamis sebelumnya, di mana rupiah berhasil ditutup melonjak 0,54% ke posisi Rp17.655 per dolar AS, sebuah rekor penutupan terkuat dalam kurun waktu sekitar 15 pekan terakhir, tepatnya sejak 21 Mei 2026.

Related Post
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat tipis 0,07% ke level 98,981 pada pukul 09.00 WIB. Namun, kenaikan minor ini tak mampu menutupi fakta bahwa DXY baru saja mengalami gempuran hebat, anjlok 0,69% pada penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan dolar AS di pasar global inilah yang menjadi salah satu pendorong utama bagi laju perkasa rupiah.

Tekanan terhadap dolar AS datang dari berbagai arah. Salah satunya adalah lonjakan nilai tukar yen Jepang yang melesat lebih dari 2% terhadap dolar AS, mendekati posisi 155,47 yen per dolar AS, level terkuatnya sejak awal Mei. Penguatan yen ini dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ). Kini, pasar memprediksi peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September mencapai 75%.
Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah anggota Dewan Kebijakan BOJ, Hajime Takata, secara terbuka menyatakan bahwa bank sentral perlu mempercepat laju kenaikan suku bunga guna merespons tekanan inflasi. Mengingat yen Jepang merupakan salah satu komponen utama dalam indeks dolar AS, penguatannya secara langsung turut membebani pergerakan DXY.
Gempuran terhadap dolar AS semakin membesar setelah Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Christopher Waller, memberikan sinyal kemungkinan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini. Waller mengindikasikan bahwa ia cenderung mendukung keputusan untuk tidak menaikkan suku bunga jika data ekonomi yang akan datang menunjukkan adanya peredaan tekanan inflasi. Pernyataan ini sontak memangkas ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September, dari sebelumnya 59% menjadi 48%. Menurunnya potensi kenaikan suku bunga membuat aset berdenominasi dolar menjadi kurang menarik, menekan greenback, dan memberikan dorongan tambahan bagi rupiah.
Namun, arah pergerakan dolar AS selanjutnya akan sangat bergantung pada rilis laporan tenaga kerja AS yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. Para ekonom memproyeksikan perekonomian AS akan menciptakan 56.000 lapangan kerja baru pada Agustus, setelah secara mengejutkan kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli. Data klaim tunjangan pengangguran AS yang dirilis Kamis juga menunjukkan kenaikan tipis pekan lalu, meski belum mengindikasikan perubahan signifikan pada kondisi pasar tenaga kerja hingga akhir Agustus.
Jika laporan tenaga kerja menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga The Fed akan semakin menipis, menekan dolar, dan membuka ruang bagi penguatan rupiah lebih lanjut. Sebaliknya, data yang lebih kuat dapat kembali memicu ekspektasi pengetatan moneter, yang berpotensi membatasi laju penguatan mata uang Garuda.










Tinggalkan komentar