Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan global kembali diwarnai gejolak signifikan setelah mata uang dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan tajam. Kondisi ini semakin diperparah oleh pernyataan mengejutkan dari mantan Presiden Donald Trump yang mengaku tidak khawatir sama sekali dengan depresiasi nilai dolar AS yang terjadi baru-baru ini. Pernyataan tersebut sontak memicu kekhawatiran mendalam di kalangan investor dan analis, mengingat potensi kebijakan ekonomi AS yang semakin tidak menentu di masa mendatang. Di sisi lain, aset safe haven seperti emas justru berpesta, mencetak rekor harga tertinggi.

Related Post
Pelemahan dolar AS ini bermula setelah Trump, dalam sebuah acara di Iowa, dengan santai menanggapi pertanyaan mengenai anjloknya nilai tukar mata uang Paman Sam. "Tidak, saya pikir itu bagus," ujarnya, seperti dikutip Haluannews.id dari Financial Times. Ia bahkan menambahkan, "Lihat nilai dolar. Lihat bisnis yang kita lakukan. Dolar, dolar sedang bagus." Respons ini kontras dengan kondisi pasar, di mana dolar AS telah terdepresiasi 1,3% terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, mencapai level terendah dalam empat tahun terakhir. Sejak awal tahun 2026, penurunan kumulatifnya bahkan mencapai 2,6%, dengan penurunan tambahan 0,1% pada Rabu pekan ini.

Dampak pelemahan dolar terasa di berbagai penjuru pasar. Poundsterling Inggris dan euro berhasil mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2021 terhadap dolar AS, dengan euro menguat 1,4% menjadi US$1,204 dan poundsterling melonjak 1,2% ke US$1,384. Yen Jepang juga melanjutkan penguatan selama tiga hari berturut-turut, mencapai ¥152,3 terhadap dolar, mendekati level saat Perdana Menteri Sanae Takaichi menjabat pada Oktober lalu. Sementara itu, daya tarik aset safe haven semakin menguat. Harga emas melonjak ke rekor baru, menembus US$5.200 per troy ounce dan bahkan sempat menyentuh US$5.218 setelah lonjakan 3% sehari sebelumnya. Perak pun tak ketinggalan, melonjak lebih dari 8% menjadi US$112 per ons.
Kepala investasi multi-aset di Royal London Asset Management mengungkapkan kekhawatiran serius. "Penguatan harga emas dan pelemahan dolar mencerminkan keraguan serius atas pembuatan kebijakan yang kacau dan serampangan oleh Trump," ujarnya, merujuk pada serangan terbaru pemerintahan Trump terhadap Kanada dan Korea Selatan. Spekulasi mengenai kemungkinan intervensi AS untuk membeli yen juga mengemuka, yang menurut Greetham, "mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan tidak peduli dengan risiko penurunan nilai dolar." Analis di MUFG menambahkan bahwa euro "mendapatkan keuntungan dari perannya sebagai anti-dolar" di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan AS.
Thomas Simons, kepala ekonom AS di Jefferies, menggarisbawahi tren "jual Amerika" yang terus-menerus muncul. "Kebijakan AS yang tidak menentu berarti bahwa sementara aset berisiko berkinerja baik, dolar dapat terpukul. Investor internasional tidak yakin penurunan dolar telah berakhir," jelas Simons, mencerminkan sentimen pasar yang skeptis terhadap prospek dolar AS.
Selain pernyataan Trump, sejumlah faktor lain turut memperparah tekanan terhadap dolar AS. Kekhawatiran akan potensi penutupan sebagian operasional pemerintah federal (shutdown) pada Sabtu depan membayangi, setelah Senator Demokrat mengancam menahan dukungan untuk paket pendanaan. Ketidakpastian mengenai siapa yang akan dinominasikan Trump untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) yang masa jabatannya berakhir Mei, juga menambah keraguan investor. Tak hanya itu, ketegangan antara AS dan sekutu NATO, terutama akibat tuntutan Trump untuk mengambil alih Greenland dari Denmark, turut memicu premi risiko dolar.
Lefteris Farmakis, ahli strategi FX senior di Barclays, menegaskan bahwa "isu Greenland kembali memicu premi risiko dolar." Ia menambahkan, "Terguncangnya tatanan pasca Perang Dunia II merupakan hal negatif jangka panjang bagi dolar," karena hal tersebut mendorong investor untuk menarik diri dari aset berdenominasi dolar atau melakukan lindung nilai terhadap eksposur dolar mereka.
Kombinasi antara retorika kontroversial dari tokoh berpengaruh seperti Donald Trump, ketidakpastian kebijakan domestik, dan gejolak geopolitik global telah menciptakan badai sempurna bagi dolar AS. Sementara para investor mencari perlindungan di aset-aset aman seperti emas dan perak, masa depan mata uang Paman Sam tampaknya akan terus diuji oleh dinamika politik dan ekonomi yang kompleks.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar