Dolar AS Menguat Rupiah Terancam Anjlok Hari Ini

Dolar AS Menguat Rupiah Terancam Anjlok Hari Ini

haluannews.id – Mata uang Garuda memulai perdagangan hari Rabu 8 Juli 2026 dengan pergerakan yang cenderung datar terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terpantau berada di level Rp17.970 per dolar AS, menunjukkan stabilitas relatif dibandingkan penutupan sesi sebelumnya. Padahal, sehari sebelumnya, Selasa 7 Juli 2026, rupiah sempat menunjukkan kekuatan dengan terapresiasi 0,08% dan mengakhiri perdagangan di posisi yang sama.

COLLABMEDIANET

Namun, di balik ketenangan pembukaan pasar, tekanan dari dolar AS patut diwaspadai. Indeks dolar (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB justru terpantau menguat 0,10%, mencapai level 101,126. Kondisi ini mengindikasikan bahwa dominasi dolar AS masih membayangi pergerakan rupiah.

Dolar AS Menguat Rupiah Terancam Anjlok Hari Ini
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pergerakan rupiah sepanjang hari ini diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, terutama dari kancah global. Gejolak di Timur Tengah kembali menjadi sorotan utama pasar. Eskalasi konflik kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan balasan ke Iran. Aksi ini menyusul laporan serangan terhadap sejumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia.

Insiden terbaru tersebut sontak memicu kekhawatiran pasar akan potensi gangguan serius pada pasokan energi global. Mengingat Selat Hormuz adalah arteri utama distribusi energi, setiap gangguan di kawasan ini berpotensi langsung memicu lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak, pada gilirannya, kembali membangkitkan momok inflasi. Bagi pelaku pasar keuangan, ancaman inflasi yang meninggi dapat mendorong bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk mengambil sikap yang lebih konservatif dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Selain itu, para investor kini juga menanti-nanti rilis risalah rapat The Fed periode Juni yang dijadwalkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia. Notulen pertemuan tersebut akan dicermati secara seksama untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai kebijakan moneter AS, terutama setelah data tenaga kerja terbaru menunjukkan perlambatan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli saat ini berada di angka 27,30%, sementara peluang suku bunga tetap dipertahankan pada level saat ini jauh lebih tinggi, mencapai 72,70%.

Di sisi domestik, ada kabar baik yang sedikit meredakan tekanan. Bank Indonesia (BI) melaporkan peningkatan cadangan devisa Indonesia pada Juni 2026. Posisi cadangan devisa tercatat sebesar US$145,6 miliar pada akhir Juni 2026, naik tipis dari US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026.

Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI, menjelaskan pada Selasa 7 Juli 2026, bahwa peningkatan ini terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa. Hal ini terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang diterapkan BI sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global. Posisi cadangan devisa tersebut dianggap sangat memadai, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang sekitar tiga bulan impor.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar