haluannews.id – Mata uang Garuda kembali tak berdaya di hadapan dolar Amerika Serikat pada penutupan pekan ini. Rupiah langsung tertekan sejak pembukaan perdagangan, memperpanjang tren pelemahan yang terjadi sebelumnya.

Related Post
Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, Jumat 11 September 2026, nilai tukar rupiah anjlok 0,23 persen, menempatkannya di posisi Rp17.570 per dolar AS. Kemerosotan ini melanjutkan kinerja buruk sehari sebelumnya, Kamis 10 September 2026, di mana rupiah sudah terkoreksi 0,17 persen dan ditutup pada level Rp17.530 per dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau stabil di angka 99,038 pada pukul 09.00 WIB. Stabilitas ini terjadi setelah indeks tersebut sempat menguat 0,23 persen pada perdagangan Kamis.
Pergerakan rupiah menjelang akhir pekan ini masih sangat dipengaruhi oleh gejolak eksternal, terutama dominasi dolar AS di pasar global. Dolar AS kini bertahan di level tertinggi dalam sepekan terakhir, didorong oleh rilis data indeks harga produsen (PPI) AS yang menunjukkan kenaikan 0,4 persen pada Agustus, sesuai dengan proyeksi pasar. Lonjakan harga energi menjadi salah satu pemicu utama tekanan inflasi di tingkat produsen.
Penguatan greenback juga ditopang oleh derasnya aliran dana investor menuju aset-aset aman (safe haven) di tengah meningkatnya kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Harga minyak mentah global terus merangkak naik selama enam hari berturut-turut. Harga minyak Brent di pasar Asia pagi ini melonjak 1,2 persen menjadi US$108,96 per barel, setelah sempat menembus level US$100 di awal pekan.
Tingginya harga energi ini memicu spekulasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), akan semakin agresif dalam menaikkan suku bunga acuannya. Menurut perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan kini mencapai 71,3 persen, naik signifikan dari 61,2 persen pada perdagangan sebelumnya.
Perubahan ekspektasi ini turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury bertenor 10 tahun naik 2,3 basis poin, mencapai 4,965 persen, semakin mendekati ambang batas 5 persen. Kenaikan imbal hasil obligasi AS ini secara langsung meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar, sekaligus memberikan tekanan lebih lanjut pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Fokus pasar kini beralih ke rilis data inflasi konsumen AS yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. Data ini merupakan salah satu indikator ekonomi krusial terakhir sebelum The Fed menggelar rapat kebijakan pada 15-16 September.
Jika inflasi konsumen AS melampaui perkiraan, hal itu akan semakin memperkuat kemungkinan The Fed untuk mengerek suku bunga, mendorong dolar AS lebih tinggi, dan menambah beban pada rupiah. Sebaliknya, jika data inflasi menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi, ini dapat meredam spekulasi pengetatan kebijakan moneter dan membuka ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.










Tinggalkan komentar