Haluannews Ekonomi – Di balik dominasi merek-merek otomotif ternama di Indonesia, tersembunyi kisah William Soerjadjaja, pendiri PT Astra International Tbk, yang membangun kerajaan bisnisnya dari nol setelah mengalami masa kelam akibat tuduhan korupsi tak berdasar pada era 1950-an.

Related Post
Setelah mendekam di penjara dan bisnisnya hancur, William memilih bangkit. Bersama adiknya, ia mengakuisisi perusahaan impor kecil di Jakarta yang kondisinya memprihatinkan. Perusahaan tersebut kemudian diberi nama Astra, dengan harapan agar bersinar seperti bintang di langit. Astra International Inc resmi berdiri pada 20 Februari 1957.

Astra langsung terjun ke pasar otomotif yang sudah dikuasai pemain lama. Setelah melewati masa sulit di era 1960-an, momentum besar datang saat transisi pemerintahan ke era Soeharto. Pinjaman dari Amerika Serikat senilai US$ 2,9 juta dan izin impor luas dimanfaatkan William untuk memasok truk Chevrolet untuk proyek infrastruktur.
Langkah ini menjadi pintu masuk Astra ke industri otomotif. Setelah pembatasan dari AS, William beralih ke Jepang dan menjalin kemitraan dengan Toyota pada 1969. Kerja sama ini mengantarkan Toyota menjadi penguasa pasar lokal, diikuti oleh Honda, Isuzu, dan Daihatsu yang juga dipasarkan oleh Astra.
Untuk mengalahkan pesaing seperti Mitsubishi, William menerapkan strategi agresif: menguasai seluruh rantai bisnis otomotif, dari produksi komponen hingga distribusi. Ia juga mengadopsi pola manajemen ala Jepang, keiretsu, untuk memperkuat kontrol pasar.
Pada 1990, Astra menguasai lebih dari 50% pangsa pasar otomotif Indonesia. Bisnisnya merambah ke sektor lain seperti properti, asuransi, perkebunan, dan perbankan. Astra melantai di bursa pada 4 April 1990.
Namun, masalah menimpa Bank Summa, bank yang dibeli putra William pada 1988. Akibat kredit macet dan utang luar negeri, William terpaksa melepas 76% saham Astra untuk menyelamatkan dana nasabah.
Muncul dugaan adanya tekanan politik di balik kejadian ini. William dikenal independen dan tidak dekat dengan lingkar kekuasaan. Sejak penjualan saham tersebut, Astra tidak lagi menjadi milik keluarga William. Kepemilikan Astra kemudian tersebar di tangan berbagai investor besar.
Meski demikian, kisah William Soerjadjaja tetap dikenang sebagai salah satu kisah kebangkitan terbesar dalam sejarah bisnis Indonesia: dari penjara, bangkit membangun kerajaan otomotif terbesar di Tanah Air.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar