Dana Segar Kemenkeu: Berkah atau Beban Bagi Bank Jatim & Jakarta?

Dana Segar Kemenkeu: Berkah atau Beban Bagi Bank Jatim & Jakarta?

Haluannews Ekonomi – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana kembali menempatkan dana Anggaran Lebih (SAL) pada dua Bank Pembangunan Daerah (BPD), yaitu PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) dan PT Bank DKI (Bank Jakarta), dengan estimasi kucuran dana sebesar Rp10 triliun hingga Rp20 triliun.

COLLABMEDIANET

Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, dan Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyambut baik rencana tersebut dan berkomitmen untuk menyalurkan dana tersebut ke sektor-sektor produktif. Keduanya juga menegaskan bahwa likuiditas kedua BPD saat ini berada dalam kondisi yang terjaga.

 Dana Segar Kemenkeu: Berkah atau Beban Bagi Bank Jatim & Jakarta?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2025, Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Jatim tercatat sebesar 85,00%, sementara Bank Jakarta sebesar 78,15%. Angka ini masih berada dalam rentang yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI), yaitu 78%-92%. Pada periode yang sama, Bank Jatim mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 15,91% (yoy) menjadi Rp67,31 triliun, sementara Bank Jakarta mengalami koreksi penyaluran kredit sebesar 1,23% menjadi Rp52,90 triliun.

Total aset Bank Jatim per Juni 2025 tercatat sebesar Rp118,14 triliun, sedangkan Bank Jakarta sebesar Rp84,72 triliun. Dengan demikian, kucuran dana dari Kemenkeu tersebut setara dengan 8%-17% dari total aset Bank Jatim dan 12%-24% dari total aset Bank Jakarta.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa nominal pasti penempatan dana masih dalam tahap diskusi dengan kedua bank daerah tersebut. Kemenkeu ingin memastikan kesiapan Bank Jatim dan Bank Jakarta dalam mengelola dana tersebut secara optimal.

Advisor Banking and Finance Development Centre (BFDC), Amin Nurdin, menilai kebijakan ini sebagai bentuk dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur dan DKI Jakarta. Bank Jatim diharapkan dapat menyasar UMKM dan sektor riil di wilayahnya, sementara Bank Jakarta dapat mendukung berbagai rencana pembangunan yang dicanangkan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Pengamat perbankan, Paul Sutaryono, menyoroti bahwa tantangan utama bagi industri perbankan saat ini bukan pada likuiditas, melainkan pada peningkatan undisbursed loan atau kredit yang sudah disetujui namun belum ditarik. Hal ini mengindikasikan bahwa masalah utama terletak pada lemahnya permintaan kredit. Oleh karena itu, risiko yang dihadapi oleh Bank Jatim dan Bank Jakarta adalah kemampuan untuk meningkatkan penyaluran kredit setelah menerima kucuran dana segar tersebut.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar