haluannews.id – Ketua Federal Reserve The Fed Kevin Warsh baru-baru ini mengguncang bursa global dengan isyarat kuat bahwa bank sentral Amerika Serikat masih memandang ancaman inflasi sebagai persoalan serius yang tak bisa dianggap remeh. Pernyataan mengejutkan ini seketika melonjakkan tingkat pengembalian obligasi Treasury AS terutama tenor pendek sekaligus membebani laju pasar saham.

Related Post
Mengutip laporan The Wall Street Journal Warsh menegaskan The Fed mungkin perlu bertindak lebih agresif untuk mengendalikan inflasi. Sontak pernyataan ini membuat pelaku pasar kembali memprediksi potensi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September mendatang.

Berdasarkan data dari CME Group probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada rapat berikutnya kini mencapai sekitar 58 persen. Angka ini meroket tajam dari sekitar 35 persen pada Kamis pekan lalu. Sinyal ini sekaligus menepis keraguan bahwa Warsh akan enggan menaikkan suku bunga akibat tekanan dari Presiden Donald Trump. Keraguan tersebut sebelumnya turut mendorong kenaikan yield Treasury jangka panjang yang menjadi salah satu tolok ukur biaya pinjaman di perekonomian AS.
Namun sebagian investor justru menilai pernyataan Warsh menempatkan The Fed dalam dilema pelik. Pasalnya bursa kini bisa memberikan tekanan agar bank sentral menaikkan suku bunga pada September meski kondisi ekonomi belum tentu membutuhkan kebijakan tersebut. "Pada dasarnya Anda telah memberi sinyal kepada pasar bahwa The Fed kurang lebih akan menaikkan suku bunga. Saya hanya tidak yakin bahwa ketika data masuk hal itu akan terjadi" ujar George Catrambone Kepala Divisi Pendapatan Tetap Amerika di DWS seperti dikutip dari WSJ Sabtu.
Menurut Catrambone kenaikan suku bunga berpotensi mencekik pertumbuhan ekonomi saat konsumen mulai menunjukkan pelemahan. Sebaliknya jika The Fed tidak menaikkan bunga pasar obligasi jangka panjang berisiko kembali mengalami aksi jual karena investor mempertanyakan kredibilitas Warsh dalam mengendalikan inflasi.
Bursa Saham Cenderung Stabil
Meski memicu kejutan respons pasar saham terhadap pernyataan Warsh terbilang terbatas. Indeks Dow Jones Industrial Average turun kurang dari 01 persen S&P 500 melemah 02 persen sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 05 persen. Pergerakan ini jauh lebih moderat dibandingkan reaksi pasar setelah dua penampilan Warsh sebelumnya sebagai ketua The Fed yakni dalam konferensi pers setelah rapat pada Juni dan Juli.
Pada Juni Warsh sempat mengejutkan investor dengan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap inflasi. Sebulan kemudian pasar justru dibuat gelisah setelah sejumlah pernyataannya memunculkan pertanyaan mengenai kesediaannya menerjemahkan kekhawatiran tersebut ke dalam kebijakan moneter.
Di tengah bursa saham yang masih mencatat kenaikan dalam beberapa bulan terakhir turbulensi justru mendominasi pasar obligasi. Setelah rapat The Fed pada Juli yield Treasury 30 tahun sempat menembus 53 persen level tertinggi sejak 2007. Kondisi itu mendorong Departemen Keuangan AS pekan lalu mengumumkan rencana untuk setidaknya menggandakan pembelian obligasi pemerintah jangka panjang melalui program buyback.
Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan program tersebut ditujukan untuk menekan yield obligasi jangka panjang yang dinilainya tidak sejalan dengan fundamental ekonomi AS. Langkah tersebut tampaknya mulai memberikan dampak. Yield Treasury 30 tahun ditutup di 5207 persen pada Jumat turun dari 5266 persen pada Rabu sebelum pengumuman buyback. Namun yield Treasury 10 tahun justru naik menjadi 4721 persen dibandingkan 4671 persen pada Kamis dan 4682 persen sebelum pengumuman buyback.
Perlu diketahui yield obligasi bergerak berlawanan dengan harga obligasi dan mencerminkan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed. Kenaikan suku bunga biasanya lebih cepat mendorong yield obligasi jangka pendek sementara dalam jangka panjang suku bunga yang lebih tinggi juga dapat menekan inflasi dan mengurangi kebutuhan kenaikan bunga yang lebih agresif di masa depan.
Pasar Masih Menebak Arah The Fed
Tekanan juga terlihat pada saham-saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi. Indeks Russell 2000 turun 14 persen sementara sektor industri S&P 500 melemah 1 persen. Kepala Investasi Alphastar Capital Management Tony Parish menilai Warsh masih membiarkan spekulasi kebijakan moneter berlanjut. "Warsh meninggalkan banyak hal dalam ketidakpastian. Jika ada perubahan dalam kepastian itu mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga yang tidak disukai pasar" kata Parish.
Sementara itu investor saham sejauh ini relatif mengacuhkan dinamika pasar obligasi dan lebih fokus pada kinerja laporan keuangan yang impresif. Saham juga mendapat dorongan setelah kinerja Nvidia meredakan kekhawatiran terkait permintaan chip kecerdasan buatan AI. Adapun S&P 500 kini hanya sekitar 1 persen dari rekor tertinggi historisnya.
Namun September secara historis menjadi salah satu bulan yang cukup bergejolak bagi pasar saham. Dengan pertemuan The Fed berikutnya yang dijadwalkan pada 16 September investor masih menunggu data ekonomi selanjutnya untuk mengetahui arah kebijakan suku bunga. Kepala Strategi Makro LPL Financial Kristian Kerr mengatakan pernyataan Warsh belum menghadirkan kejelasan mengenai keputusan The Fed. "Masih ada unsur mencoba memahami Warsh. Itu akan berlanjut untuk sementara waktu" pungkas Kerr.










Tinggalkan komentar